Portalarjuna.net – Dua puluh tahun lalu, tsunami dahsyat mengguncang Aceh, menyisakan luka mendalam yang sulit terhapus dari ingatan. Dandhy Dwi Laksono, seorang jurnalis, mengisahkan perjalanannya menuju Banda Aceh pada 28 Desember 2004, tiga hari setelah bencana. Perjalanan itu membuka jarak antara imajinasi dan kenyataan yang seringkali lebih mencengangkan.
Dikutip dari akun X @Dandhy_Laksono, perjalanan darat dari Medan ke Banda Aceh bersama jurnalis Tempo, Nezar Patria, dan Edy Tjan dari KBR 68H, mereka membawa bayangan akan kehancuran. Namun, seperti pengalaman Dandhy sebelumnya saat meliput konflik di Timor Leste dan perang di Aceh, kenyataan di lapangan sering tak seperti yang dibayangkan.
“Kenyataannya biasanya tak sedahsyat yang dibayangkan,” ujar Nezar. Imajinasi mereka dilandasi informasi terbatas, seperti tayangan televisi yang hanya menampilkan kerusakan di Lhokseumawe atau cerita korban tsunami pertama yang diterima lewat sebuah foto dari warnet di Bireuen.
Namun, semua berubah ketika mereka tiba di Banda Aceh. Bau busuk menusuk hidung, berbeda dari bau bangkai hewan yang sebelumnya tercium di Pidie. Di perempatan Lambaro, kenyataan jauh melampaui imajinasi. “Ada jenazah di atas pohon, dan saya bisa melihat pantai Ulee Lheue dari lapangan Blang Padang,” ujar seorang saksi yang berhasil mereka hubungi sehari sebelumnya.
Di tengah gelapnya komunikasi dan minimnya teknologi pengiriman gambar pada masa itu, imajinasi mereka tentang dampak tsunami berkembang liar. Namun, apa yang mereka saksikan di Banda Aceh mematahkan semua bayangan sebelumnya. Kenyataan jauh lebih dahsyat.
Kisah ini tak hanya mengenang tragedi tsunami, tetapi juga menjadi refleksi atas bagaimana bencana besar menguji kemampuan manusia untuk memahami dan merespons situasi luar biasa.
Al-Fatihah untuk semua korban tsunami. Semoga memori ini menjadi pelajaran bagi kita semua.
Author : Afina Salsabila Firandria










