Portalarjuna.net, Pasuruan – Suriah merayakan Natal pertama dalam suasana baru setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad. Di tengah euforia kebebasan, masyarakat menghadapi tantangan baru, terutama terkait toleransi dan inklusivitas di wilayah yang kini dikuasai kelompok seperti Hay’at Tahrir al-Sham (HTS).
“Kami akhirnya dapat merayakan dengan lebih bebas tanpa ketakutan,” ungkap seorang pemimpin gereja lokal, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia. Perayaan ini menandai perubahan signifikan dalam kebebasan beragama, meskipun ada kekhawatiran mengenai keberlanjutan inklusivitas.
Beberapa pemimpin masyarakat menyerukan pentingnya dialog lintas agama untuk memperkuat persatuan. “Kebebasan harus disertai dengan upaya bersama untuk menciptakan harmoni di antara komunitas,” ujar seorang ulama Muslim, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.
Namun, transisi politik tidak sepenuhnya menjamin stabilitas. Seorang aktivis HAM lokal mengatakan bahwa kelompok tertentu masih memegang kendali di beberapa wilayah. “Masih ada hambatan besar untuk benar-benar membangun Suriah yang damai dan inklusif,” tambahnya, mengacu pada laporan CNN Indonesia.
Dengan segala dinamika ini, Natal tahun ini menjadi momen refleksi sekaligus ujian bagi komitmen Suriah dalam membangun masa depan yang lebih toleran dan damai.
Author: Achmad albazi










