Portalarjuna, Pasuruan – Kawasan Jeruk Ledug di Kecamatan Prigen, Pasuruan, adalah tempat di mana tradisi turun-temurun Nyadran dan Sedekah Bumi terus dijaga. Setiap dua tahun sekali, masyarakat setempat melaksanakan ritual adat ini pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Tradisi ini bukan hanya menjadi penghormatan kepada leluhur, tetapi juga wujud syukur kepada alam yang telah memberi rezeki berlimpah.
Kasiman Bambang Wisanggeni, yang akrab disapa Mbah Man, seorang tokoh adat setempat, mengungkapkan makna mendalam di balik tradisi ini. “Ini bukan sekadar ritual. Nyadran dan Sedekah Bumi adalah pengingat bagi kita untuk selalu menghormati leluhur, menjaga alam, dan bersyukur atas anugerah kehidupan. Tanpa tradisi, kita kehilangan identitas,” ujarnya.
Rangkaian dimulai tiga hari sebelum puncak Sedekah Bumi, dengan prosesi Nyadran yang dilakukan di makam leluhur di Gunung Kekep. Para tokoh adat, dipimpin oleh Mbah Man, membawa sesaji berupa hasil bumi seperti beras, jagung, ketela, serta tumpeng dan makanan tradisional lainnya. Perjalanan menuju makam tidak sekadar fisik; setiap langkah mengandung makna spiritual, mengingatkan masyarakat pada akar leluhur mereka.

Di area makam, sesaji ditempatkan dengan hati-hati, lalu dilanjutkan dengan doa dan mantra dalam bahasa Sanskerta yang diwariskan turun-temurun. Lantunan doa ini dianggap sebagai cara menyampaikan pesan kepada para leluhur bahwa anak cucu mereka akan melaksanakan Sedekah Bumi. “Nyadran adalah momen yang sangat sakral. Ini cara kami berkomunikasi dengan leluhur dan memohon berkah untuk acara puncak nanti,” ungkap Mbah Man dengan penuh khidmat.
Pada puncak acara, yang dilaksanakan pada hari Rabu Pon atau Jumat Pon di bulan Ruwah, suasana desa Jeruk Ledug dipenuhi semangat gotong royong. Setiap keluarga menyiapkan ancak, sebuah wadah besar yang dihias cantik. Ancak-ancak ini berisi hasil bumi, makanan, dan simbol-simbol rasa syukur yang melambangkan kebersamaan masyarakat.

Salah satu momen yang paling ditunggu adalah penyembelihan sapi. Sapi yang dipilih untuk ritual ini harus memenuhi kriteria tertentu: sapi yang sehat, besar, dan tanpa cacat fisik. Penyembelihan dilakukan dengan penuh kehati-hatian, dan daging sapi yang diperoleh dibagikan merata kepada seluruh warga sebagai bentuk syukur atas rezeki yang diterima. Darah sapi dipercikkan ke tanah sebagai simbol penyucian. “Ini adalah wujud rasa syukurkami kepada Tuhan dan bumi atas segala rezeki yang telah diberikan,” jelas Mbah Man.
Setelah prosesi penyembelihan, acara dilanjutkan dengan Tahlil Kubro dan pembacaan Khotmil Qur’an, dimana masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama. Prosesi ini menjadi momen spiritual yang mempererat hubungan antara warga dan mempertebal rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Suasana desa berubah menjadi lebih semarak saat pagelaran seni dimulai. Berbagai kesenian tradisional, seperti tarian dan musik gamelan, dipentaskan untuk memeriahkan acara. Generasi muda juga diberi ruang untuk menampilkan kreasi seni yang tetap mengedepankan unsur budaya lokal. Acara ini menjadi ajang silaturahmi, di mana warga yang merantau pun diharapkan pulang untuk berkumpul bersama keluarga.
“Bagi kami, Sedekah Bumi bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga saat untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Semua orang diwajibkan hadir, karena ini bagian dari penghormatan kepada leluhur,” tegas Mbah Man.
Mbah Man menekankan pentingnya menjaga tradisi di tengah arus modernisasi. “Tradisi adalah identitas. Jika kita kehilangan tradisi, kita kehilangan jati diri. Generasi muda harus menjaga warisan ini, karena budaya adalah akar dari keberadaan kita,” pesannya. Nyadran dan Sedekah Bumi di Jeruk Ledug bukan sekadar ritual adat. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya harmoni antara manusia, leluhur, dan alam. Masyarakat Jeruk Ledug terus mengajarkan bahwa pelestarian budaya adalah tugas bersama, untuk memastikan nilai-nilai luhur ini tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
Author: Kontributor






