Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 16 Mei 2026

Misteri dan Keindahan Sejarah Goa Antobugo Di Lereng Gunung Arjuno: Warisan Budaya yang Tersembunyi”

Portalarjuna.id, Pasuruan- Gunung Arjuno, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, merupakan salah satu gunung berapi stratovolcano yang memiliki sejarah panjang baik secara geologis maupun budaya. Dengan ketinggian mencapai 3.339 meter di atas permukaan laut, gunung ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekitar sejak zaman kerajaan kuno. Nama “Arjuno” sendiri diambil dari tokoh dalam epos Mahabharata, mencerminkan kedekatan gunung ini dengan tradisi dan mitologi Hindu. Selain itu, Gunung Arjuno dikenal sebagai salah satu tempat suci pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit, di mana banyak ditemukan peninggalan candi dan situs pemujaan yang tersebar di lerengnya.

Dalam jalur pendakian via Purwosari tepatnya di desa Tambaksari terdapat suatu goa yang di namakan goa antobugo. Nama “Antaboga” diambil dari tokoh pewayangan Sang Hyang Antaboga, yang digambarkan sebagai dewa penguasa dasar bumi berwujud ular naga. Goa ini dianggap keramat dan sering dikunjungi peziarah, terutama pada hari Jumat Legi di bulan Asyuro, untuk mencari ketenangan hidup. Para peziarah biasanya membakar hio atau dupa serta menabur bunga tiga warna sebagai sesajen sambil memanjatkan doa.

Goa ini dipercaya sebagai tempat bertapa Sang Hyang Antaboga. Pada masa kerajaan Hindu, masyarakat setempat sering mengunjungi goa ini untuk melakukan ritual spiritual. Tak hanya sebagai tempat spiritual bahkan waktu masa penjajahan tempat ini juga memiliki sejarah tersendiri. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan sekitar Goa Ontobugo sering dijadikan tempat persembunyian oleh para pejuang kemerdekaan. Lokasinya yang tersembunyi dan dikelilingi hutan lebat memberikan perlindungan alami.

Goa ini berada di bawah tebing batu yang menghadap ke utara, dengan kedalaman sekitar 1,5 meter, lebar 1 meter, dan tinggi 1,25 meter. Di depan goa terdapat sebuah pondok yang biasa digunakan oleh para pendaki dan peziarah untuk beristirahat. Selain itu, terdapat pula sebuah cungkup dengan arsitektur Jawa yang berdiri megah, lengkap
dengan altar berkeramik di sisi kirinya.

“Pada saat bulan-bulan tertentu kayak misal suro goa antobugo banyak dikunjungi oleh penziarah untuk melakukan suatu ritual atau memanjatkan doa. Sebenarnya gak hanya goa antobugo aja mas para peziarah biasanya berkunjung ke situs peninggalan sejarah lainnya karena di jalur pendakian ini kan banyak tempat bersejarah yang sering dikunjungi, Ujar Tarmi penduduk setempat,”

Bagi para pengunjung yang datang ke tempat ini di anjurkan bertata kerama yang baik dan dilarang berbicara kasar. Selain itu pengunjung juga harus menjaga kebersihan di area jalur pendakian khususnya pada area peninggalan sejarah berada. Goa antobugo ini sekarang telah mengalami perubahan yang signifikan, dulu tempat ini hanya dikunjungi oleh pendaki dan penziarah saja. Namun seiring berjalannya waktu kini tempat ini menjadi wisata budaya yang banyak diminati oleh masyarakat, selain mendaki di area pos 1 juga telah disediakan area camp bagi para pengunjung. Jalan
menuju goa antobugo sekarang juga jauh lebih baik yang dulunya bebatuan kini telah dicor sehingga memudahkan pengunjung membawa motor mereka ke area parkir di gua antobugo.

Pada area pendakian pos 1 kini banyak pedagang seperti cilok dan kopi lesehan, selain itu juga terdapat beberapa warung. Untuk menikmati keindahan alam di goa antobugo kalian cukup mengeluarkan uang Rp. 10.000 dan parkirnya gratis. Kalau untuk mendaki ataupun ngecamp kalian perlu membayar uang parkir Rp. 5.000/malam

Author :Kontributor

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial