Pasuruan, Jawa Timur
Senin, 4 Mei 2026

Kulit Kita Berbeda Tapi Batik Kita Sama

Portalarjuna.net, Pasuruan – Batik selalu hadir di momen-momen penting kehidupan orang Indonesia. Dari kelahiran hingga pernikahan, dari ruang sidang hingga jalanan, kain ini seakan tak mengenal batas. Yang menarik, batik tidak terikat pada satu identitas suku atau warna kulit ia hadir dalam lemari siapa pun, dipakai oleh siapa saja, dari Sabang sampai Merauke.

Di Pasuruan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang kaya akan sejarah dan kerajinan, batik menjadi medium ekspresi lintas generasi. Tidak sedikit anak muda kini mulai menjadikan batik sebagai bentuk gaya hidup, bukan sekadar pakaian formal. Mereka memadukannya dengan jaket denim, sepatu kanvas, hingga aksesoris etnik menjadikan batik hidup di antara tren global.

Menariknya, dalam diskusi yang diadakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Pluralisme Indonesia (IPI), disebutkan bahwa batik merupakan warisan yang menyimpan filosofi mendalam tentang keberagaman dan spiritualitas lokal. Salah satunya adalah simbol Manunggaling Kawulo Gusti yang tertanam dalam batik Cirebon, mencerminkan ajaran sufistik yang menekankan kesatuan antara manusia dan Tuhannya. (Sumber: BRIN)

Transformasi batik hari ini tak lepas dari peran masyarakat dan pengrajin yang terus berinovasi. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa proses komersialisasi membuat sebagian makna luhur batik mulai memudar. Dalam sebuah sesi diskusi, penata busana Musa Widyatmodjo mengungkapkan bahwa membatik dulu adalah proses spiritual berpikir, merenung, dan meresapi lingkungan sosial. Kini, katanya, banyak yang melukis di atas kain hanya sekadar menggambar, tanpa filosofi.

Tantangan lain yang juga mencuat adalah keterbatasan data dan dokumentasi batik dari berbagai daerah. Banyak pengrajin yang masih bekerja sendiri-sendiri, tanpa jejaring atau kolaborasi lintas wilayah. Padahal, potensi batik sebagai kekuatan ekonomi dan simbol budaya sangat besar. Upaya pelatihan, pendampingan, hingga pemetaan motif lokal menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan batik sebagai ekspresi keberagaman.

Apa yang menarik dari batik bukan hanya motifnya, tapi siapa yang memakainya. Dari pemuda Papua, perempuan Madura, hingga diaspora Indonesia di luar negeri semua merasa punya keterikatan dengan batik. Mungkin karena batik bukan sekadar kain, tapi cermin dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia: kesabaran, ketekunan, dan kebersamaan.

Dalam dunia yang penuh batas, batik justru menjadi jembatan. Ia menyatukan tanpa menyeragamkan. Dan mungkin, dalam setiap helai batik yang kita kenakan, ada pesan diam-diam yang ingin disampaikan: kulit kita boleh berbeda, tapi batik kita sama.

 

Author : Galby, Rafli, Ridho

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial