Portalarjuna.net, Pasuruan – Di tengah arus globalisasi dan berkembangnya industri tekstil modern berbasis mesin, batik sebagai warisan budaya bangsa tetap bertahan melalui usaha-usaha lokal yang menjunjung tinggi nilai tradisi. Salah satu contoh nyata dari semangat pelestarian tersebut adalah Batik Inayah, sebuah usaha kecil menengah (UKM) yang tumbuh dari semangat belajar, ketekunan, dan dorongan untuk mandiri. Berbasis di Pasuruan, Jawa Timur, Batik Inayah bukan sekadar unit produksi kain bermotif, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan masyarakat serta pelestarian nilai-nilai lokal.
Kisah Batik Inayah berawal pada tahun 2016, dari sosok pendirinya yang pada awalnya tidak memiliki latar belakang di bidang batik, namun memiliki ketertarikan besar terhadap seni membatik. Ketika mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh Dinas Perdagangan dan Koperasi, ia mulai mengenal proses dan nilai-nilai di balik selembar kain batik. Ketertarikan itu tidak berhenti hanya pada pelatihan dasar. Sang pemilik kemudian mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan membatik lebih lanjut di Yogyakarta, yang dikenal sebagai pusat budaya dan seni batik di Indonesia.
“Waktu itu ibu belajar membatik. Karena ada ketertarikan, ibu akhirnya disekolahkan ke Jogja,” tuturnya. Pengalaman belajar di Jogja memperkaya pemahamannya terhadap teknik membatik sekaligus membuka matanya akan peluang usaha dari warisan budaya ini. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan, serta dukungan dari instansi terkait, ia pun memberanikan diri mendirikan UMKM Batik Inayah pada tahun 2016.
Usaha ini dimulai secara sederhana, hanya dijalankan berdua oleh beliau dan suaminya. Dalam perjalanannya, Batik Inayah perlahan tumbuh. Pada tahun 2018, usaha ini mulai mempekerjakan dua karyawan. Kini, setelah hampir satu dekade berjalan, jumlah tenaga kerja telah bertambah menjadi 12 orang. Meski sebagian besar karyawan bukan tenaga ahli, mereka telah dilatih untuk menguasai tugas-tugas spesifik berdasarkan tahapan proses membatik. “Mereka bekerja per teknik, ada yang menggambar sendiri, ada yang mewarnai sendiri,” ungkap sang pemilik.
Sementara itu, keahlian mendalam dalam seni batik masih menjadi tanggung jawab pemilik dan anak-anaknya, yang kebetulan juga telah berkecimpung dalam dunia batik. Ini menunjukkan bagaimana semangat dan tradisi diwariskan secara langsung dari generasi ke generasi dalam lingkungan keluarga.
Batik Inayah memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan produksi tekstil modern. Proses produksinya dilakukan secara manual dan berpegang pada nilai artistik khas batik tradisional. Setiap kain yang dihasilkan bukan sekadar produk komersial, tetapi juga karya seni yang sarat makna dan nilai budaya. Motif yang digunakan pun beragam, dengan perpaduan antara motif klasik dan eksplorasi gaya modern untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Lebih dari itu, Batik Inayah memiliki dampak sosial yang signifikan bagi lingkungan sekitarnya. Dengan membuka lapangan kerja dan memberikan pelatihan langsung kepada para karyawan, usaha ini telah menjadi motor pemberdayaan ekonomi lokal. Banyak dari tenaga kerja yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan khusus kini mampu menghasilkan karya batik yang bernilai jual tinggi.
Keberhasilan Batik Inayah bukan semata karena sisi produksi atau penjualan, tetapi karena keuletannya menjaga keseimbangan antara aspek budaya dan bisnis. Usaha ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai tradisional.
Hari ini, Batik Inayah bukan hanya menjadi produsen batik lokal, tetapi juga menjadi simbol inspiratif bagaimana UKM bisa tumbuh dari pelatihan sederhana menjadi usaha yang mandiri dan berdampak luas. Dengan semangat yang terus menyala dan dukungan dari generasi penerusnya, Batik Inayah akan terus menorehkan jejak dalam pelestarian batik sebagai warisan budaya bangsa.
Author: Shobirin Daeng Ismail, M. Panji Gemilang, Wahyu Ilhami










