Portalarjuna.net, Pasuruan – TikTok ramai membicarakan bocah penari pacu jalur asal Riau. Aksinya yang berdiri di ujung sampan sambil menari dengan gaya tenang tapi memikat langsung menyita perhatian warganet. Banyak yang menyebut gayanya sebagai bentuk aura farming istilah Gen Z untuk menggambarkan pesona keren tanpa usaha berlebihan.
Dalam tradisi pacu jalur, biasanya ada satu hingga tiga penari anak-anak yang menari di bagian depan jalur (sampan panjang). Mereka menjalankan peran penting, seperti penari utama, timbo ruang, dan tukang onjai semuanya bagian vital dari lomba ini. “Penari cilik memiliki peran strategis dalam pacu jalur. Selain karena tubuh mereka lebih ringan, mereka juga jadi simbol semangat dan daya tarik visual dalam lomba ini,” ujar Roni Rakhmat, Kepala Dinas Pariwisata Riau. “Aksi menari mereka bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.” Tambahnya, Pada Minggu 6 juli 2025.
Anak-anak dipilih karena lebih mudah berdiri di ujung jalur yang melaju cepat di sungai. Penari dewasa biasanya berdiri di bagian tengah atau belakang, memberi aba-aba dan dorongan ritme bagi para pendayung.
Penari cilik ini tampil mencolok dengan pakaian adat Melayu yang cerah serta tanjak di kepala. Sementara itu, para pendayung mengenakan seragam polos yang seragam sesuai tim masing-masing.
Tradisi pacu jalur sudah ada sejak abad ke-17. Dulu, masyarakat menggunakannya sebagai alat transportasi dan sarana lomba antar kampung. Kini, pacu jalur berkembang menjadi festival budaya tahunan yang digelar menjelang Hari Kemerdekaan RI di Kuantan Singingi, Riau.
Istilah aura farming berasal dari dunia game dan budaya TikTok. Dalam konteks ini, istilah tersebut menggambarkan bagaimana sang bocah menari dengan gaya alami, santai, tapi tetap mampu memancarkan daya tarik yang kuat.
Aksi viral ini bahkan menarik perhatian klub sepak bola dunia. Paris Saint-Germain (PSG) merilis video para pemainnya yang menirukan gerakan sang bocah penari. Tak mau kalah, AC Milan pun mengunggah video maskot mereka yang ikut menari dengan gaya serupa.
Author : Muhammad Nafi’ Ridho










