Portalarjuna.net, Purwosari – Di tengah ramainya kendaraan yang lalu-lalang di perempatan Purwosari, suara gitar sederhana terdengar dari pinggir jalan. Pemiliknya adalah Dandi, remaja laki-laki berusia sekitar 26–27 tahun yang sudah beberapa waktu terakhir hidup berpindah-pindah bersama teman-temannya.
Dandi berasal dari Jember. Ia mengaku datang ke Purwosari bukan karena rencana panjang, melainkan karena ajakan teman-temannya yang lebih dulu mengamen di kawasan tersebut. Sejak itu, hidupnya bergantung pada hasil ngamen dari titik ke titik. “Kesehariannya ya ngamen, Mas. Sama temen-temen,” katanya singkat.
Saat bercerita, Dandi menyebut kalau ia adalah anak tunggal dan tidak lagi memiliki orang tua. Ia menjalani hidup di jalanan sejak keduanya meninggal dunia. Kondisi ekonomi yang sulit membuatnya tidak punya banyak pilihan selain mengikuti ajakan teman-temannya untuk mengamen demi bisa bertahan.
Ia juga mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan formal. “Sekarang itu nyari kerja susah,” ujarnya tanpa banyak ekspresi, seolah sudah terlalu sering menghadapi kenyataan itu.
Di balik hidup yang serba terbatas, Dandi menyimpan pesan yang menurutnya penting untuk disampaikan. sebuah kalimat yang tampak lahir dari pengalaman hidup yang panjang dan tidak mudah:
“Jangan menyia-nyiakan orang tua yang masih ada, biar nggak kejadian sama kayak saya.”
Cerita singkat Dandi di perempatan Purwosari ini menjadi pengingat bahwa di balik seorang pengamen yang sering kita lihat sekilas dari balik kaca mobil, ada perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar kita tahu.
Author: Muhammad Rudi










