Portalarjuna.net, Malang – Nurman (28), seorang pria disabilitas yang berasal dari Bareng Tengah, Kota Malang. menjalani hari-harinya dengan bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya yang hampir berusia dua tahun. Dengan segala keterbatasannya, ia memilih bertahan hidup melalui pekerjaan halal. Setiap Selasa hingga Jumat, ia dapat dijumpai di lampu merah dekat Kampus ITN Malang sambil menawarkan tisu kepada para pengguna jalan (18/11/2025).
Rutinitasnya dimulai sejak pagi buta. Berbekal kantong plastik berisi dagangan, ia berdiri di tengah ramainya lalu lintas untuk menjual tisu. Selain berdagang, Nurman juga membuka jasa pijat dan sesekali tampil sebagai pengamen di Pasar Singhosari. Aktivitasnya sebagai pengamen biasanya berlangsung dari pukul 05.30 hingga 10.00 siang, namun hal itu hanya ia lakukan sebagai pekerjaan tambahan.
Sebelum menekuni pekerjaannya kini, Nurman sempat bekerja sebagai tukang pijat selama tiga tahun di area belakang Kampus UIN Malang. namun harus menelan kerugian karena gajinya dibawa lari oleh bosnya. ia kemudian membuka usaha pijat sendiri. Setelah pengalaman pahit itu, ia mencoba berbagai pekerjaan. termasuk menjual koran selama setahun, sebelum akhirnya memilih menjual tisu seperti sekarang.
Walaupun penghasilan dari menjadi pengamen di pasar lebih besar. Namun, Nurman merasa berdagang jauh lebih bermartabat dan merupakan profesi yang membanggakan. Ia juga tak luput dari berbagai gangguan ketika berada di lampu merah. seperti ulah anak jalanan, badut jalanan, ataupun anak punk, namun semua itu tidak menghalangi niatnya mencari rezeki.
Istrinya yang juga penyandang disabilitas bekerja sebagai pengamen di Pasar Lawang serta menjalankan usaha kecil secara online. Mereka mengasuh anaknya tanpa bantuan siapa pun. Kehidupan yang penuh tantangan justru membuat Nurman semakin bertekad untuk bertahan.
Dalam wawancara, ia mengatakan:
“Bagi saya, berjualan itu lebih dihargai. Menyanyi boleh saja, tapi tidak setiap hari. Kalau tidak ada yang memperhatikan penyanyi, itu hal biasa. Tapi berdagang membuat saya merasa lebih layak.” Ujarnya.
Di balik Keterbatasan dan kesederhanaannya. Nurman ternyata pernah aktif di dunia musik dan memiliki grup band, yang sempat meraih juara dua dalam sebuah kompetisi sebelum akhirnya vakum. Kini, ia memilih fokus bekerja demi masa depan keluarganya.
Author : Salsabilah Rachma










