Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 2 Mei 2026

Alas Pinggan, Menyeduh Hening di Lereng Arjuna

Portalarjuna.net, Pasuruan – Kabut tipis kerap turun pelan di kawasan Prigen, menyelimuti pepohonan dan jalur kecil menuju Alas Pinggan. Di sinilah, di lereng Gunung Arjuna, alam tidak hanya hadir sebagai pemandangan, tetapi sebagai ruang cerita—tentang hutan, kopi, dan upaya warga menjaga hidup yang selaras dengan alam.

Alas Pinggan berada di Jl. Alpukat, Desa Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Wana wisata ini dibuka untuk umum setiap hari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB. Dengan tiket masuk Rp10.000 per orang untuk piknik, Alas Pinggan menjadi destinasi yang ramah bagi berbagai kalangan. Bagi pengunjung yang ingin merasakan malam di tengah hutan, tersedia tiket camping seharga Rp20.000, parkir mobil Rp5.000, dan parkir sepeda Rp3.000. Pengelola juga menyediakan paket camping lengkap seharga Rp135.000, termasuk tenda serta makan dan minum dua kali.

Memasuki kawasan Alas Pinggan, pengunjung disambut area parkir yang luas dan hawa sejuk khas pegunungan. Langkah kaki kemudian diarahkan menuju coffeshop bernuansa klasik yang berdiri berdampingan dengan hutan. Dari tempat ini, pengunjung biasa menikmati secangkir kopi sembari memandang hijau pepohonan, mendengar suara alam, dan menanti matahari yang perlahan turun di balik lereng Arjuna.

Namun Alas Pinggan bukan sekadar tempat singgah. Ia tumbuh dari sejarah dan harapan warga setempat. Suprapto, Ketua Pengelola Alas Pinggan, menjelaskan bahwa nama “Pinggan” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti piring atau wadah besar. Nama itu bukan tanpa makna. “Pinggan adalah simbol harapan agar alas atau hutan ini bisa menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Dari awal, kami ingin Alas Pinggan memberi manfaat nyata bagi warga Ledug,” ujar Suprapto.

Gagasan mendirikan Alas Pinggan berangkat dari kehidupan warga yang mayoritas merupakan petani kopi. Sejak 2018, masyarakat mulai menanam kopi secara serius dari hulu ke hilir. Proses panjang itu kemudian berkembang menjadi wisata alam yang tetap berpijak pada identitas pertanian dan kelestarian lingkungan. Alas Pinggan resmi berdiri pada November 2021, membawa semangat “Dari Petani untuk Masyarakat”.

Selain menikmati suasana hutan, pengunjung dapat mengikuti eduwisata kopi. Dengan pendampingan pemandu, wisatawan diajak mengenal proses kopi secara menyeluruh—mulai dari budidaya, perawatan tanaman, penanganan pasca panen, hingga menyeduh kopi sendiri. Aktivitas ini kerap menjadi pilihan rombongan sekolah, komunitas, hingga kegiatan pelatihan dan outbound.

Tak jauh dari coffeshop, area camping ground terbuka di antara pepohonan. Saat malam tiba, tenda-tenda berdiri di bawah langit Prigen yang dingin dan sunyi. Pagi harinya, cahaya matahari perlahan menyusup di sela daun, menciptakan suasana yang kerap membuat pengunjung enggan beranjak pulang.

Salma, salah satu pengunjung, mengaku menemukan pengalaman yang berbeda di Alas Pinggan. “Tempatnya luas, pemandangannya indah banget, terutama saat matahari terbenam dan waktu matahari muncul. Fasilitas toiletnya juga bersih. Memang jalannya cukup menanjak, tapi justru jadi momen kebersamaan. Minusnya cuma nyamuknya lumayan,” tuturnya sambil tersenyum.

Hal serupa dirasakan Nisa. Menurutnya, Alas Pinggan menawarkan ketenangan yang jarang ditemui di tempat nongkrong pada umumnya. “Suasananya masih alami, dikelilingi pepohonan, udaranya sejuk khas Prigen. Datang ke sini rasanya langsung lebih rileks. Bukan cuma tempatnya, tapi suasana tenangnya yang bikin betah dan berkesan,” ujarnya.

Bagi pengunjung yang gemar berjalan kaki, Alas Pinggan juga menyediakan jalur tracking yang menyusuri kawasan hutan, meski jaraknya cukup jauh dari pintu masuk. Jalur ini memberi pengalaman menyatu langsung dengan alam, jauh dari hiruk pikuk keseharian.

Alas Pinggan tidak menawarkan gemerlap. Ia menghadirkan kesederhanaan yang jujur tentang hutan yang dijaga, kopi yang dirawat, dan ruang wisata yang tumbuh bersama masyarakatnya. Di sini, alam bukan sekadar latar foto, melainkan bagian dari cerita hidup yang terus ditulis oleh warga dan siapa pun yang datang berkunjung.

Author : Eka Suryanti

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial