Pasuruan, Jawa Timur
Jumat, 19 Juni 2026

Berziarah Bersama Keluarga, Menemukan Tenang di Makam Mbah Hamid Pasuruan

Portalarjuna.net, Pasuruan – Ziarah sering kali dipahami sebagai perjalanan batin yang sunyi dan personal. Namun di Pasuruan, makna itu berkembang menjadi pengalaman yang lebih cair dan menyatu dengan kebersamaan keluarga dan ritme ruang kota. Kawasan makam KH Abdul Hamid atau Mbah Hamid Pasuruan menjadi contoh bagaimana wisata religi dapat berjalan beriringan dengan aktivitas keluarga tanpa kehilangan nilai spiritualnya.

Letaknya yang berdampingan langsung dengan Alun-Alun Kota Pasuruan menjadikan kawasan ini mudah dijangkau dan akrab bagi masyarakat sekitar. Peziarah tidak harus melakukan perjalanan jauh atau merencanakan waktu khusus berhari-hari. Bagi sebagian warga, ziarah ke makam Mbah Hamid justru menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan atau waktu senggang bersama keluarga.

Indah, salah satu pengunjung yang datang bersama keluarganya, menggambarkan pengalaman tersebut secara sederhana.

“Kesini sama keluarga mbak, sekalian jalan-jalan kita mampir ziarah kesini, dekat dari rumah juga soalnya,” ujarnya.

Pernyataan itu mencerminkan bagaimana ziarah di kawasan ini tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas religius hadir sebagai bagian dari keseharian warga, bukan sesuatu yang eksklusif atau berjarak. Setelah berdoa dan berziarah, keluarga dapat melanjutkan waktu bersama di ruang terbuka alun-alun tanpa perlu berpindah lokasi.

Lingkungan di sekitar makam Mbah Hamid dan Alun-Alun Kota Pasuruan menunjukkan perhatian yang konsisten terhadap perawatan ruang publik. Jalur pejalan kaki terlihat jelas dan tertata, memudahkan pengunjung untuk bergerak tanpa harus bercampur dengan lalu lintas kendaraan. Area taman dirawat secara rutin, rumput dipangkas rapi, pepohonan memberi keteduhan, dan fasilitas umum dijaga kebersihannya sehingga tidak menimbulkan kesan kumuh. Tempat sampah tersedia di sejumlah titik, membantu pengunjung menjaga kebersihan kawasan bersama-sama.

Suasana yang tertib dan terawat tersebut menghadirkan rasa aman bagi pengunjung dari berbagai kelompok usia. Anak-anak dapat bermain di sekitar alun-alun dengan pengawasan orang tua, sementara peziarah lanjut usia dapat berjalan atau duduk beristirahat tanpa rasa khawatir. Bagi keluarga yang datang bersama anak-anak, kondisi lingkungan yang bersih dan nyaman ini menjadi nilai penting, karena ziarah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas religius, tetapi juga sebagai waktu berkualitas yang dapat dinikmati bersama dalam ruang publik yang ramah dan menenangkan.

Pada waktu tertentu, terutama menjelang sore, kawasan ini menjadi ruang temu berbagai latar belakang masyarakat. Peziarah datang dengan tujuan ibadah, sementara keluarga menikmati suasana kota yang lebih santai. Anak-anak bermain di area alun-alun, orang tua duduk mengawasi sambil berbincang, dan para peziarah meluangkan waktu sejenak untuk beristirahat.

Kehadiran wisatawan religi ini turut menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan. Pedagang kaki lima berjejer rapi menawarkan makanan ringan, minuman, dan jajanan khas. Bagi para pedagang, keramaian peziarah dan pengunjung alun-alun menjadi sumber penghidupan yang cukup stabil.

“Alhamdulillah kalau di sini sore-sore pasti rame mbak, apalagi kalau hari-hari libur,” tutur seorang pedagang yang setiap hari membuka lapak di sekitar alun-alun.

Wisata religi di makam Mbah Hamid Pasuruan pada akhirnya tidak berdiri sendiri sebagai tujuan ibadah, melainkan sebagai bagian dari ekosistem ruang kota. Nilai religius berjalan seiring dengan fungsi sosial, menciptakan ruang yang inklusif bagi keluarga dan masyarakat umum.

Dalam konteks pariwisata, kawasan ini menunjukkan bahwa wisata religi tidak harus terpisah dari aktivitas rekreatif. Dengan lingkungan yang bersih, aman, dan ramah, ziarah justru dapat menjadi pintu masuk bagi keluarga untuk mengenalkan nilai spiritual kepada anak-anak dalam suasana yang lebih santai dan membumi.

 

Pasuruan menghadirkan ziarah bukan sebagai perjalanan yang kaku, melainkan sebagai pengalaman yang menyatu dengan kehidupan. Di antara doa yang dipanjatkan dan tawa anak-anak yang bermain, kawasan makam Mbah Hamid menjadi ruang di mana spiritualitas dan kebersamaan keluarga saling menguatkan.

Author: Aisyah Ummul Mukminin

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial