Pasuruan, Jawa Timur
Selasa, 11 Agustus 2026

Tari Sodoran Menjadi Tarian Penutup Yadnya Karo di Desa Ngadiwono, Kec. Tosari, Kab. Pasuruan

Portalarjuna.net, Tosari – Tari Sodoran tampil sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian Yadnya Karo 2026 di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Senin (10/8/2026). Tarian sakral khas Suku Tengger ini disaksikan dua Romo Dukun, satu sesepuh, dan dua legen adat, menandai sahnya penutupan ritual secara adat.

Dalam pementasannya, para penari Sodoran menampilkan rangkaian gerak yang menggambarkan sangkan paraning dumadi asal dan tujuan hidup manusia menurut kepercayaan Tengger. Klimaksnya terjadi saat bambu yang dibawa penari dipecah hingga biji-bijian di dalamnya tumpah ke tanah, disimbolkan sebagai kesuburan, harapan keberlangsungan hidup, dan kelimpahan hasil bumi bagi masyarakat Tengger.

Yang membedakan Ngadiwono dari desa Tengger lainnya adalah posisi tarian ini dalam rangkaian Karo. Di sebagian besar desa Brang Kulon, termasuk Tosari, Sodoran justru ditampilkan sebagai pembuka rangkaian mengawali prosesi sebelum berlanjut ke tahap Santi, Mayu Desa, Mayu Banyu, hingga penutupan yang disebut Bawahan. Ngadiwono menempuh jalur berbeda: tarian ini dipentaskan justru di ujung rangkaian, menjadikan Sodoran sebagai penanda berakhirnya seluruh prosesi, bukan pembukanya.

Kehadiran Tari Sodoran tak lepas dari serangkaian ritual pendahulu yang menyertainya, mulai dari Ritual Rakantawang yang bertujuan memberi tahu leluhur dan penunggu mata air bahwa hari raya akan segera berlangsung, ritual Blarak’i, hingga pembacaan Cangkriman Kertijoyo sebagai pengantar sebelum tarian inti dimulai. Pertunjukan Sodoran turut dimeriahkan kesenian rakyat reog dan bantengan dari warga setempat, sekaligus menjadi wujud pelestarian budaya lokal.

Bagi masyarakat Tengger, Tari Sodoran bukan sekadar hiburan, melainkan medium yang menjaga kepatuhan warga terhadap adat istiadat leluhur secara turun-temurun. Riset budaya di Ngadiwono bahkan mencatat bahwa generasi muda setempat memiliki pemahaman kuat akan makna tarian ini, yang biasanya dibawakan oleh remaja laki-laki dan perempuan sebagai penerus tradisi.

Penutupan Yadnya Karo di Ngadiwono menjadi ujung dari rangkaian panjang perayaan yang dimulai sejak akhir Juli 2026 di Balai Desa Tosari dan berlangsung 10–15 hari di berbagai desa Tengger Brang Kulon.

Author : Salsabilah Rachma

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial