Pasuruan, Jawa Timur
Kamis, 30 April 2026

Dalam Sentuhan Kabut, Keindahan Sunyi Air Terjun Kabut Pelangi

Portalarjuna.net, Lumajang — Kabut tipis menyelimuti tebing tinggi ketika cahaya matahari pagi mulai merayap masuk ke kawasan Air Terjun Kabut Pelangi di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Tidak ada suara lain selain gemuruh air yang jatuh dari ketinggian dan hembusan angin yang membawa aroma pepohonan basah. Di balik tirai air yang bergerak konstan, semburat warna-warni samar muncul ketika cahaya memantul pada tetes kabut. Fenomena inilah yang menjadi alasan banyak wisatawan datang, bahkan sejak pagi buta.

Sekitar pukul sembilan, beberapa pengunjung berdiri di bebatuan besar yang menghadap langsung ke air terjun. Salah satunya adalah Riska Anjani (24), wisatawan asal Banyuwangi yang baru pertama kali mengunjungi tempat ini. Ia tampak mengangkat ponselnya untuk mengabadikan pemandangan yang perlahan berubah seiring pergerakan matahari.

“Dari sini kelihatannya bagus sekali. Warnanya muncul pelan-pelan dan kabutnya malah bikin tambah indah,” katanya sambil tersenyum.

Riska harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari area parkir menuju titik utama air terjun. Jalur berbatu dan licin menjadi tantangan tersendiri, tetapi rasa lelahnya terbayar ketika suara air mulai terdengar dari kejauhan. “Pas sudah dekat, dinginnya langsung terasa. Tapi suasananya enak sekali, kayak beda dari tempat wisata air terjun lain,” ujarnya.

Namun keelokan Air Terjun Kabut Pelangi tidak hanya terletak pada fenomena cahaya dan kabutnya. Bagi warga setempat, lokasi ini memiliki cerita panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Konon, kawasan sekitar air terjun dulu menjadi tempat para sesepuh desa untuk mencari ketenangan batin dan mengambil keputusan penting. Alam yang masih liar dianggap memberikan kejernihan pikiran, sehingga lokasi ini dihormati sebagai ruang yang sakral.

Di jalur masuk menuju lokasi wisata, para pengunjung biasa disambut oleh penjual kopi dan jajanan tradisional. Salah satu yang paling dikenal di kalangan wisatawan adalah Mbah Rahman (63), penjual kopi yang sudah lebih dari sepuluh tahun berjualan di area tersebut. Dengan gerobak sederhana dan termos berisi air panas, ia menjadi sosok yang kerap ditemui wisatawan sebelum dan sesudah menuruni jalur air terjun.

“Orang tua dulu bilang, kalau kelihatan warna-warna di airnya itu tandanya alam lagi baik,” tuturnya sambil menuang kopi hitam ke gelas plastik.

Menurutnya, kabut yang sering muncul di pagi hari bukan sekadar hiasan alam, tetapi bagian dari cerita lokal yang dipercaya membawa kebaikan. Meski tidak semua wisatawan mengetahui kisah turun-temurun tersebut, Mbah Rahman tetap sering menceritakannya kepada pengunjung yang bertanya. Baginya, menjaga cerita lama sama pentingnya dengan menjaga kebersihan alam.

“Yang penting tempatnya dijaga, jangan buang sampah sembarangan. Kalau kotor ya nggak ada yang mau datang lagi,” katanya.

Suasana di sekitar air terjun semakin ramai menjelang siang. Beberapa wisatawan memilih duduk di bebatuan besar sambil menunggu kabut menipis, sementara yang lain berfoto di tepi aliran sungai. Jejak air yang mengenai kulit memberikan sensasi dingin yang khas. Meski pelangi tidak selalu muncul, banyak pengunjung tetap merasa puas dengan panorama yang mereka dapatkan.

Riska adalah salah satu di antaranya. Setelah hampir satu jam menikmati pemandangan, ia memilih duduk sebentar sebelum bersiap kembali naik ke jalur pulang. Sambil melihat ke arah jatuhan air yang kembali diselimuti kabut tebal, ia berkata singkat, “Capek sih jalannya, tapi tempatnya memang bagus sekali. Rasanya pengen datang lagi.”

Kedatangan wisatawan seperti Riska membawa pengaruh positif bagi ekonomi warga sekitar. Penjualan kopi, makanan ringan, hingga jasa parkir meningkat terutama pada akhir pekan. Pemerintah desa setempat juga tengah menyiapkan beberapa perbaikan jalur untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung tanpa mengubah keaslian alam.

 

Menjelang siang, kabut kembali menutup sebagian besar pemandangan. Warna-warni yang sebelumnya terlihat memudar perlahan hingga akhirnya hilang. Namun bagi para pengunjung, pengalaman singkat melihat perubahan alam itu sudah cukup meninggalkan kesan mendalam.

Air Terjun Kabut Pelangi seolah memiliki caranya sendiri untuk menyapa setiap orang yang datang—kadang dengan cahaya, kadang dengan kabut tipis yang bergerak pelan. Di antara sunyi gemuruh air dan cerita lama yang masih dijaga warga, destinasi ini mengingatkan bahwa keindahan alam tidak selalu harus mencolok. Sering kali ia hadir dengan sederhana, namun mampu mengikat hati siapa pun yang melihatnya.

Author : M Slamet Basofi

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial