Portalarjuna.net, Prigen – Pagi itu, langit di atas Candi Jawi Prigen tampak kelabu, awan tebal mengantarkan suasana mendung yang perlahan menyelimuti kompleks candi jawi. Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh saat langkah kaki mengarah ke kantor pelaporan tamu. Di sana, di sudut ruang yang sederhana, saya menjumpai seorang pria paruh baya tengah beristirahat usai memotong rumput hijau tersusun rapi yang mengelilingi candi. Dialah Sumadi, sosok yang selama ini berperan sebagai juru pelihara Candi Jawi.
Sumadi menyambut dengan senyum hangat yang tetap menebar meski lelah masih terlihat jelas dari wajahnya, Sebelum menjadi penjaga dan pelihara candi, perjalanan hidup Sumadi tak sekilas mudah. Ia memulai hidup dari kuli serabutan. “Dulu saya hanya kuli serabutan, jualan koran, tukang panggul di sawah, sampai ngojek juga pernah,” ujar Sumadi (41) dengan senyum penuh keikhlasan (03/01/2026), Semua pekerjaan itu dijalani dengan penuh ketekunan dan kesabaran. “Dari kecil saya memang suka dengan sejarah, tapi belum ada kesempatan untuk benar-benar mendalaminya, Imbuhnya”
Pintu perubahan itu terbuka pada tahun 2018, saat kakak iparnya memberikan rekomendasi untuk masuk sebagai juru pelihara Candi Jawi. “Waktu itu saya berpikir, ini jalan saya untuk belajar sekaligus mengabdi,” ujar Sumadi. Setahun pertama Sumadi mengabdikan diri tanpa status pegawai tetap, tekadnya bulat: melestarikan warisan sejarah sekaligus mengabdi pada negara. Pada 2019, ia resmi diangkat menjadi juru pelihara candi yang dengan rasa penuh tanggung jawab.
Pengabdian Sumadi tidak hanya sebatas menjaga fisik candi. Perannya multi-fungsi—mulai dari menjadi tour guide, menerima tamu dengan ramah, menjaga keamanan, hingga merawat taman yang memperindah lingkungan candi. Dalam setiap langkahnya memperhatikan lingkungan candi, Sumadi memegang teguh nilai-nilai Sapta Pesona: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Ia percaya bahwa menjaga situs bersejarah tidak hanya soal menjaga benda fisik, tetapi juga menjaga jiwa dan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Pengunjung datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga merasakan bagaimana kita menghargai sejarah. Itu yang menjadikan warisan leluhur tetap hidup,
Lebih dari sekadar menjaga bangunan candi, Sumadi turut menjaga cerita dan makna di balik setiap batu yang tersusun rapi. Ia menyadari bahwa Candi Jawi adalah saksi bisu sejarah Kerajaan Singhasari, yang menyimpan pesan penting mengenai kebesaran, peradaban, dan keindahan masa lalu. Setiap langkah di sini mengingatkan untuk terus menjaga dan melestarikan, bukan hanya buat diri sendiri tapi untuk semua,
Lewat kisah hidupnya, Sumadi mengajarkan bahwa tidak ada pekerjaan kecil jika dijalani dengan hati besar dan niat baik. Dari kuli serabutan yang biasa berganti kerjaan, hingga menjadi penjaga sejarah dengan segudang tugas, perjalanan hidupnya menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah dan terus belajar. Kesabarannya menghadapi tantangan dan semangat pengabdian menjadi cerminan nilai luhur yang selalu relevan bagi siapa pun.
Cerita Sumadi mengingatkan kita pada pentingnya menghargai dan melestarikan peninggalan masa lalu. Dari seorang kuli serabutan yang penuh liku, kini dia menjadi penjaga sejarah yang memberi makna lebih dalam pada sebuah candi yang telah menyaksikan peradaban berabad-abad silam.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa pengabdian kepada bangsa dan cinta pada budaya adalah energi kuat yang menggerakkan setiap insan, tanpa harus mengandalkan latar belakang pendidikan atau status sosial. Ketulusan hati dan rasa tanggung jawab mampu membuka pintu masa depan yang lebih cerah.
Candi Jawi yang megah itu kini tidak hanya menjadi destinasi wisata dan situs sejarah, tapi juga saksi dari sebuah perjalanan hidup yang penuh makna. Sumadi seperti pahlawan yang tanpa tanda jasa, menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan terjaga. Dalam setiap tarikan nafasku, ia menyuntikkan rasa bangga akan sejarah dan kemanusiaan yang menghargai akar budaya.
Pesan terakhir yang tersirat dari kisah Sumadi adalah sebuah panggilan bagi kita semua untuk mempertahankan budaya dan sejarah negeri ini dengan sepenuh hati. Seperti Sumadi yang memulai dari kuli serabutan dan kini menjadi penjaga cagar budaya, setiap langkah kecil kita dalam menjaga warisan bisa berarti besar untuk masa depan bangsa. Karena di balik tiap cerita sejarah, ada jiwa-jiwa yang terus mengabdi tanpa henti demi negeri yang kita cintai.
Semoga kisah Sumadi menginspirasi kita semua untuk lebih mencintai dan menjaga warisan budaya, tidak hanya sebagai peninggalan masa lalu, tapi juga sebagai cermin masa depan yang harus kita rawat bersama.
Autor: Muhammad Rangga W.H.P










