Portalarjuna.net, Malang – Di sebuah lorong sempit Pasar Wilis, Kota Malang, ribuan buku tersusun rapat dari lantai hingga mendekati langit-langit kios. Di tengah tumpukan itu, Bapak Sutejo (58) berdiri setia melayani pembeli yang datang silih berganti, meski jumlahnya tak seramai dulu. Selama lebih dari dua dekade, ia menggantungkan hidup dari lembar demi lembar ilmu yang ia jual setiap hari.
Sutejo mengaku mulai berjualan buku sejak awal 2000-an. Awalnya, ia hanya memiliki satu rak kecil berisi buku pelajaran bekas. Kini, kiosnya dipenuhi berbagai jenis bacaan, mulai dari buku pelajaran sekolah, kamus, kitab keagamaan, novel, hingga buku referensi perkuliahan.
“Dulu ramai sekali, apalagi kalau musim masuk sekolah atau mahasiswa baru. Sekarang sudah jauh berkurang,” ujar Sutejo sambil merapikan tumpukan buku di depannya, Kamis (17/1).
Menurutnya, perubahan pola membaca masyarakat dan maraknya toko buku daring menjadi tantangan terbesar. Banyak pembeli datang hanya untuk melihat-lihat, lalu membandingkan harga melalui ponsel sebelum memutuskan membeli secara online.
Meski demikian, Sutejo tetap bertahan. Baginya, kios kecil di Pasar Wilis bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan. Ia kerap membantu pelajar dan mahasiswa menemukan buku yang mereka butuhkan, bahkan tak jarang memberi potongan harga bagi mereka yang mengaku kesulitan biaya.
“Kalau anak sekolah atau mahasiswa, saya senang bisa bantu. Yang penting mereka mau baca,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana kios Sutejo selalu dipenuhi aroma kertas lama dan suara halaman buku yang dibalik. Beberapa pelanggan setia mengaku lebih nyaman membeli buku langsung di pasar karena bisa melihat kondisi fisik buku dan berdiskusi langsung dengan penjual.
“Pak Sutejo tahu banyak soal buku. Kalau cari referensi, saya sering tanya beliau dulu,” kata Rina, salah seorang mahasiswa yang kerap berbelanja di kios tersebut.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, keberadaan Sutejo menjadi pengingat bahwa literasi masih memiliki rumah di sudut-sudut pasar tradisional. Di antara rak usang dan tumpukan buku, ia terus menjaga nyala kecil budaya membaca agar tak padam oleh zaman.
Author : Muhamad Syaifudin










