Pasuruan, Jawa Timur
Kamis, 30 April 2026

Di Balik Harga Tiket Putuk Truno, Upaya Menjaga Wisata Alam Tetap Nyaman

Portalarjuna.net, Prigen – Pagi itu udara di kawasan Prigen terasa sejuk dan bersih. Embun masih bertengger di ujung dedaunan ketika seorang rombongan keluarga tiba di loket masuk Wisata Air Terjun Putuk Truno. Di depan loket kayu berhias papan tarif, mereka melihat daftar harga yang terpampang jelas: Rp 17.000 untuk hari biasa dan Rp 22.000 pada akhir pekan. Sementara wisatawan mancanegara dikenakan Rp 45.000, dengan biaya parkir Rp 6.000 untuk mobil dan Rp 3.000 untuk motor.

Bagi sebagian pengunjung, harga tiket hanyalah syarat sebelum menikmati alam. Namun bagi pengelola, angka-angka tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga Putuk Truno tetap nyaman, bersih, dan tertata meskipun jumlah tamu terus meningkat setiap tahun.

“Kalau akhir pekan itu kunjungan bisa dua sampai tiga kali lipat,” ujar Rohman, salah satu petugas loket yang baru selesai menyusun bukti retribusi. “Jadi biaya operasional juga ikut naik — mulai dari kebersihan, pengawasan, sampai keamanan pengunjung.”

Rohman mengatakan bahwa penyesuaian tarif bukan hal baru. Setiap beberapa waktu, pengelola melakukan evaluasi berdasarkan kebutuhan kawasan. Di Putuk Truno, yang masih berada di dalam wilayah pegunungan dan dikelilingi hutan, perawatan jalur dan kebersihan lingkungan menjadi pekerjaan rutin yang harus dilakukan.

Jalur menuju air terjun memang memerlukan perhatian ekstra. Daun basah yang menempel di jalur setapak, batu yang menjadi licin setelah hujan, hingga perawatan papan penunjuk dan pagar pengaman — semuanya memerlukan tenaga kerja tambahan, terutama saat musim liburan.

Pada akhir pekan, wajah-wajah wisatawan dengan berbagai gaya pakaian pendakian mulai memenuhi area masuk. Ada rombongan pelajar, keluarga yang membawa anak kecil, hingga pasangan muda yang membawa tripod untuk berburu foto.

Salah satunya adalah Udin, wisatawan asal Sidoarjo, yang mengaku tarif Putuk Truno masih sangat wajar.

“Kalau dapat suasana seindah ini, tiket segitu malah murah,” ujarnya seraya tersenyum. “Yang penting tempatnya terurus dan ramah pengunjung.”

Pernyataan Eko bukan tanpa alasan. Putuk Truno tidak hanya menjual pemandangan air terjun yang megah, tapi juga suasana hutan dengan udara segar yang jarang ditemui di kota. Suara gemericik air dan aroma pepohonan menjadi alasan pengunjung kembali lagi di akhir pekan berikutnya.

Tidak hanya wisatawan, warga sekitar juga merasakan dampak positif dari tertatanya kawasan ini. Dari pedagang minuman, jasa parkir, hingga kelompok masyarakat yang ikut menjaga jalur dan fasilitas — roda ekonomi kecil berputar bersamaan dengan jumlah pengunjung.

“Kalau pengunjung nyaman, mereka pasti balik lagi, dan itu juga membawa rezeki ke warga sekitar,” ujar Sulastri, pedagang kelapa muda yang sudah lima tahun membuka lapak di pintu masuk.

Sapta Pesona — bersih, tertib, aman, sejuk, indah, ramah, dan memberikan kenangan — terasa hidup di kawasan ini. Tidak perlu banner besar atau slogan keras, sebab masyarakat dan pengelola menjalankan nilai tersebut dalam tindakan sehari-hari. Mulai dari menjaga sampah tetap terkelola, menertibkan jalur wisata, hingga menyambut pengunjung dengan sapaan ramah.

Di balik papan tarif tiket yang terlihat sederhana, tersimpan kerja kolektif yang mungkin tidak disadari oleh para wisatawan. Bahwa keindahan alam tidak terjaga dengan sendirinya, melainkan melalui tenaga, waktu, dan biaya yang terus berjalan tanpa henti.

Menjelang siang, matahari menembus pepohonan pinus dan rombongan wisatawan bergantian memasuki loket. Ada yang baru pertama datang, ada juga yang sudah beberapa kali kembali. Namun sebagian besar datang dengan harapan yang sama: menikmati alam yang bersih, tenang, dan memberi ruang bernapas dari rutinitas.

Harga tiket mungkin hanya angka bagi wisatawan, tapi bagi Putuk Truno, angka itu adalah cara agar alam tetap layak dinikmati — hari ini, besok, dan untuk generasi berikutnya.

Author : Diki Nafiudin 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial