Portalarjuna.net, Pasuruan-Pagi itu embun masih menempel di dedaunan kurma ketika langkah kaki Ibu Mariyah menyusuri jalan setapak Kurma Park, Pasuruan. Dengan seragam hijau sederhana dan topi lebar yang selalu menemaninya, ia memulai tugas yang sudah ia jalani selama tujuh tahun: menjaga kebersihan dan keindahan destinasi wisata yang kini menjadi salah satu ikon rekreasi keluarga di kawasan tersebut. “Kalau tempatnya bersih, pengunjung pasti betah,” ujarnya sambil tersenyum, menyapu sisa daun kering yang jatuh semalam.
Kurma Park tak hanya dikenal karena ratusan pohon kurma yang tumbuh subur, tetapi juga karena suasana yang sejuk, tertata rapi, dan ramah untuk keluarga. Namun di balik kerapihan itu, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa henti, salah satunya milik Ibu Mariyah. Setiap hari, ia datang sebelum wisata dibuka dan pulang setelah semua area kembali rapi. “Saya senang melihat anak-anak berlarian tanpa takut kotor. Itu rasanya bangga,” katanya.
Pekerjaan itu tidak selalu mudah. Pada akhir pekan dan musim liburan, jumlah pengunjung meningkat drastis. Sampah makanan, tisu, dan botol minuman sering kali berserakan. Tetapi dengan sabar, Ibu Mariyah dan timnya bergerak dari satu titik ke titik lain. “Kelelahan pasti ada, tapi kalau ingat bahwa kebersihan ini bagian dari kenyamanan orang lain, semangatnya muncul lagi,” katanya sambil menegaskan bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari nilai Sapta Pesona: Bersih, Tertib, dan Ramah.
Menurut Samsul Anam, salah satu pengelola Kurma Park, keberadaan pekerja seperti Ibu Mariyah menjadi fondasi keberhasilan destinasi tersebut. “Kami bisa bangun fasilitas, tetapi tanpa orang yang merawatnya, semuanya tak akan berarti. Ibu Mariyah adalah salah satu yang membuat Kurma Park selalu tampak hidup,” jelasnya.
Pengunjung pun merasakan manfaatnya. Rosi, wisatawan asal Pandaan, mengatakan bahwa ia memilih Kurma Park karena suasananya bersih dan terjaga. “Anak saya suka bermain di sini karena tempatnya nyaman. Saya sampai heran, kok bisa tetap bersih meski ramai. Ternyata ada petugas yang selalu memantau,” tuturnya.
Di tengah pekerjaannya, Ibu Mariyah sering kali berinteraksi dengan pengunjung. Banyak yang menyapanya, ada pula yang sekadar menanyakan arah lokasi spot foto atau kebun kurma. “Melayani dengan ramah itu penting. Kita bekerja di tempat wisata, jadi harus bisa memberi kesan baik,” ucapnya sambil tersenyum. Sikap ramah itu membuatnya dikenal oleh beberapa pengunjung langganan yang datang hampir setiap bulan.
Kurma Park sendiri berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Selain kebun kurma, tersedia area edukasi, spot foto, wahana permainan sederhana, hingga sentra UMKM yang menjual olahan kurma. Inovasi-inovasi ini membuat destinasi tersebut menarik bagi keluarga, pelajar, hingga wisatawan luar daerah. Namun semua fasilitas tersebut terasa lengkap karena dirawat oleh orang-orang seperti Ibu Mariyah.
Saat matahari mulai naik dan pengunjung mulai berdatangan, Ibu Mariyah membereskan peralatan kebersihannya untuk bergeser ke zona lain. “Kadang ada yang lupa buang sampah, jadi saya sekalian ingatkan baik-baik. Biasanya mereka langsung minta maaf,” katanya. Baginya, menjaga lingkungan bukan hanya pekerjaan, tetapi bagian dari ibadah dan kontribusi kecil bagi daerahnya.
Di akhir percakapan, ia menyampaikan harapan sederhana: “Semoga Kurma Park semakin maju, dan pengunjung makin sadar pentingnya kebersihan. Kalau tempatnya bersih, semua pasti senang.”
Peran kecil yang dilakukan Ibu Mariyah mungkin luput dari perhatian sebagian orang, tetapi hasil kerjanya dirasakan oleh semua. Ia adalah wajah lain dari pariwisata: sosok yang tak tampak di panggung utama, tetapi menjadi alasan kenyamanan pengunjung. Melalui dedikasinya, nilai-nilai Sapta Pesona bukan hanya slogan, tetapi benar-benar hidup di antara rindangnya pepohonan kurma.
Author : Muhammad Yoga Tri Saputra










