Portalarjuna.net, Pasuruan – Di balik riuhnya aktivitas warga di gang-gang sempit pemukiman padat, tersimpan ancaman kesehatan yang sering diabaikan. Setiap pagi, kepulan asap putih menyelimuti ventilasi rumah dan jemuran warga, menandakan dimulainya ritual “pembersihan” limbah domestik melalui metode pembakaran terbuka (open burning).
Berdasarkan hasil observasi di salah satu pemukiman padat di Pasuruan, pembakaran sampah bukan sekadar masalah rendahnya kesadaran warga, melainkan manifestasi dari kegagalan sistem pengangkutan sampah publik. Karakteristik wilayah yang memiliki gang sempit dengan lebar kurang dari 1,5 meter membuat armada truk sampah resmi tidak memiliki akses masuk ke jantung pemukiman.
Ancaman “Pembunuh Senyap” Aktivitas yang tampak biasa ini sebenarnya menyimpan bahaya medis yang fatal. Merujuk pada data World Health Organization (WHO), pembakaran plastik pada suhu rendah melepaskan senyawa Dioksin dan Furan yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker. Dengan jarak titik api yang hanya berkisar 2-3 meter dari hunian, warga terutama balita dan lansia terpapar risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) setiap hari.
Butuh Solusi, Bukan Sekadar Larangan Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan larangan atau denda. Dibutuhkan kehadiran solusi infrastruktur yang inklusif bagi warga di gang sempit. Pengadaan kendaraan pengangkut sampah roda tiga atau pembentukan sistem bank sampah komunal menjadi rekomendasi utama agar warga tidak lagi terjebak dalam dilema antara membiarkan sampah menumpuk atau membakarnya.
Author : Ahmad Alfan Saputro










