Portalarjuna.net, Gempol – Candi Belahan tidak hanya menyimpan sejarah dan keindahan alam, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara wisatawan dan masyarakat Desa Wonosunyo. Kehidupan sosial di sekitar situs ini menjadi bagian penting dari identitas warga, yang telah lama hidup berdampingan dengan keberadaan candi (20/11/2025).
Setiap akhir pekan, beberapa warga membuka lapak sederhana di area pintu masuk. Mereka menjual jajanan, minuman hangat, bahkan persewaan tikar untuk pengunjung. “Alhamdulillah, Mas, lumayan buat tambahan. Apalagi kalau hari libur, ramai,” ungkap Siti, salah satu pedagang.
Selain itu, ada juga para juru pelihara dan warga yang dengan sukarela membersihkan area candi setiap pagi. Mereka percaya bahwa menjaga Candi Belahan adalah menjaga warisan desa mereka. Kesadaran kolektif ini membuat suasana sekitar candi terasa teratur meski tanpa pengelolaan wisata besar.
Hubungan antara wisatawan dan warga berjalan hangat. Banyak pengunjung yang justru senang karena interaksi yang sederhana. Beberapa warga bahkan kerap menjadi pemandu informal, memberikan penjelasan singkat kepada wisatawan yang penasaran.
Di sisi lain, keberadaan wisatawan membawa dampak ekonomi kecil namun stabil. Mulai dari pedagang, tukang parkir, hingga warga yang menjual hasil kebun di akhir pekan. Meski manfaatnya tidak besar, namun cukup membantu kebutuhan harian keluarga.
Candi Belahan kemudian menjadi ruang sosial yang mempertemukan dua dunia: masyarakat lokal dan pendatang dari luar daerah. Tempat ini mengajarkan bahwa wisata bukan hanya soal melihat tempat, tetapi juga berinteraksi dengan kehidupan yang ada di dalamnya. Dan di Candi Belahan, harmoni itu terasa nyata.
Author : Bilkis Afidatul Farhana










