Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 2 Mei 2026

Jejak Airlangga di Candi Belahan, Situs Pertirtaan yang Menjaga Nafas Budaya Jawa

Portalarjuna.net, Gempol – Candi Belahan bukan sekadar petirtaan tua di kaki Gunung Penanggungan, melainkan saksi bisu perjalanan panjang budaya Jawa sejak era Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11. Situs ini diyakini dibangun pada masa Raja Airlangga, dan sejarah tersebut masih terasa melalui arca, relief, dan struktur kolam yang bertahan hingga kini (20/11/2025).

Air yang terus mengalir dari arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi bukan hanya unsur estetika, tetapi simbol kesuburan dan sumber kehidupan. Dalam tradisi Jawa kuno, air dianggap memiliki kekuatan penyucian, sehingga petirtaan seperti ini memiliki fungsi penting untuk ritual keagamaan.

Purwito, juru pelihara candi, menjelaskan bahwa tempat ini digunakan untuk “ruwatan” dan ritual pembersihan tubuh serta batin. “Dulu ini bagian dari tempat penyucian para bangsawan. Sampai sekarang, beberapa kelompok masih datang untuk upacara tertentu,” ujarnya.

Masyarakat setempat masih menjaga sejumlah tradisi seperti nyadran atau ziarah sebelum Ramadan. Mereka membersihkan area candi, mempersembahkan bunga, dan berdoa bersama. Meski kini jumlah pesertanya tidak sebanyak dulu, makna pelestarian budaya tetap terjaga.

Keberadaan Candi Belahan menjadi bukti bahwa warisan budaya Jawa tidak hanya disimpan dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Setiap tetes air yang mengalir dari petirtaan ini membawa kisah masa lampau yang terus diwariskan.

Bagi para pengunjung, pengalaman berada di tempat ini bukan sekadar menikmati situs bersejarah, tetapi juga merasakan hubungan antara manusia, leluhur, dan alam yang terjalin erat sejak ratusan tahun lalu.

Author : Bilkis Afidatul Farhana 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial