Pasuruan, Jawa Timur
Jumat, 19 Juni 2026

Lebih dari Sekadar Wisata Sekolah Strategi Kebun Pak Budi Menjadi Destinasi Edukatif yang Nyaman dan Inklusif

Portalarjuna.net, Pasuruan – Wisata edukasi kerap dilekatkan pada satu gambaran yakni rombongan sekolah, jadwal kunjungan yang singkat, lalu pulang. Kebun Pak Budi sempat berada di posisi tersebut. Nama besarnya tumbuh dari kunjungan anak-anak sekolah mulai dari TK, SD, hingga SMA. Namun, ketergantungan pada satu segmen pasar justru menyimpan risiko jangka panjang.

Kesadaran inilah yang kemudian melatarbelakangi perubahan arah pengelolaan Wisata Kebun Pak Budi.

“Target pasar kita sebenarnya lebih global, bukan hanya ke anak-anak sekolah, kalau hanya menyasar edukasi, salah besar.” kata Ervan, General Manager Wisata Kebun Pak Budi.

Pernyataan tersebut bukan penolakan terhadap identitas lama, melainkan upaya memperluas makna edukasi itu sendiri. Di Wisata Kebun Pak Budi, edukasi tidak hanya terjadi di ruang belajar terbuka, tetapi juga melalui pengalaman tinggal, berinteraksi dengan alam, dan menikmati lingkungan yang tertata rapi.

Dengan fasilitas penginapan mencapai 30 kamar, termasuk konsep camping, Kebun Pak Budi mulai memposisikan diri sebagai destinasi yang ramah bagi keluarga, pasangan, komunitas, hingga perusahaan. Aula, karaoke, flying fox, dan ATV menjadi pelengkap yang memperluas fungsi ruang wisata ini.

Sayangnya, potensi penginapan selama ini justru tertutup oleh citra besar wisata edukasi.
“Penginapan kita itu kurang dapat nama karena ketutup dengan nama besarnya edukasi,” ujar Ervan.

Transformasi ini juga menyentuh pendekatan edukatif itu sendiri. Pengelola menyadari bahwa kurikulum pendidikan terus berubah. Karena itu, konten wisata edukasi tidak bisa stagnan. Ketika tema pendidikan bergeser, Kebun Pak Budi berusaha menyesuaikan fasilitas dan materi pembelajaran.

“Kurikulum ini kan tiap tahun berubah. Jadi kita harus aware dengan perubahan-perubahan kurikulum sekolah,” jelas Ervan.

Pendekatan adaptif ini membuat Kebun Pak Budi relevan tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai mitra belajar yang responsif. Dalam perspektif pariwisata edukatif, langkah ini memperkuat posisi destinasi sebagai ruang pembelajaran kontekstual yang aman dan nyaman.

Kebersihan menjadi fondasi utama yang terus dijaga di Kebun Pak Budi, bukan sekadar demi estetika, tetapi sebagai jaminan rasa aman bagi pengunjung. Area taman, jalur pejalan kaki, hingga fasilitas edukasi dirawat secara rutin agar tetap layak digunakan oleh seluruh pengunjung. Bagi pengunjung, lingkungan yang bersih memberi ketenangan tersendiri, karena wisata edukasi tidak hanya berbicara soal pengetahuan, tetapi juga tentang ruang yang sehat dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, ketertiban dan kenyamanan dirancang sebagai pengalaman yang dirasakan sejak pengunjung memasuki kawasan. Penataan fasilitas dibuat agar aktivitas wisata, edukasi, dan penginapan dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu. Keramahan petugas menjadi pengikat dari seluruh pengalaman tersebut, mulai dari menyambut tamu harian yang datang berwisata singkat hingga pengunjung yang menginap lebih lama. Dalam suasana yang tertib dan nyaman itulah, Kebun Pak Budi berupaya menghadirkan wisata yang tidak melelahkan, melainkan memberi ruang untuk menikmati alam, belajar, dan beristirahat dengan tenang.

Di sisi lain, pengelola juga menyesuaikan diri dengan pola konsumsi informasi masyarakat. Media sosial dimanfaatkan sebagai sarana utama promosi. TikTok, Instagram, Facebook, hingga situs web menjadi jendela baru untuk memperkenalkan wajah Kebun Pak Budi yang terus berbenah.

“Sekarang siapa sih yang nggak pakai media sosial? Semuanya pakai,” kata Ervan.

Bagi industri pariwisata lokal, strategi ini mencerminkan perubahan lanskap promosi yang awalnya dari kunjungan langsung terbatas menuju jangkauan digital yang masif. Meski membutuhkan biaya dan konsistensi, visibilitas menjadi syarat penting untuk bertahan.

Kebun Pak Budi hari ini tidak lagi berdiri hanya sebagai tujuan kunjungan sesaat. Ia sedang berproses menjadi ruang yang inklusif, tempat belajar, beristirahat, dan berkumpul. Dalam proses itu, edukasi tidak ditinggalkan, tetapi diperkaya oleh kenyamanan, kebersihan, dan pelayanan yang lebih ramah.

Di tengah perubahan industri pariwisata yang cepat, Kebun Pak Budi memilih bergerak dengan langkah terukur. Bukan dengan meninggalkan jati diri, melainkan dengan memperluasnya. Sebuah strategi yang mungkin tidak spektakuler, tetapi berakar kuat pada satu prinsip sederhana: wisata yang baik adalah wisata yang membuat orang betah, merasa diterima, dan ingin kembali.

Author: Aisyah Ummul Mukminin

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial