Pasuruan, Jawa Timur
Kamis, 30 April 2026

Menelusuri Sunyi Gunung Griyang Jejak Spiritual dan Identitas Warga Baledono

Portalarjuna.net, Tengger – Pagi di Desa Baledono terasa berbeda bagi siapa saja yang datang ke kawasan Gunung Griyang. Kabut tipis masih menggantung di sela-sela pepohonan, sementara embun melekat di rerumputan yang berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. Suara burung terdengar samar, mengiringi langkah para pengunjung yang mendaki menuju kompleks makam tua yang diyakini sebagai makam para leluhur masyarakat Tengger. Di tempat ini, wisata bukan hanya soal perjalanan, tetapi juga ziarah batin yang membawa manusia bertemu kembali dengan akar budayanya.

Gunung Griyang terletak di perbatasan Desa Baledono dan Dusun Junggo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Berbeda dengan destinasi wisata yang ramai papan petunjuk dan fasilitas modern, kawasan ini tetap dibiarkan apa adanya. Hanya jalur tanah yang diperkuat bebatuan sederhana menjadi akses menuju lokasi. Namun kesederhanaan itulah yang justru menegaskan suasana sunyi dan sakral yang menjadi ciri Gunung Griyang.

Menurut penuturan Pak Surianto, salah satu tetua adat desa, situs ini diyakini telah ada sejak masa sebelum Kerajaan Majapahit. Masyarakat Tengger percaya bahwa makam-makam kuno di Griyang merupakan tempat peristirahatan para pemuka leluhur yang berjasa dalam menjaga tradisi dan warisan budaya. Tidak heran bila setiap kunjungan, baik oleh masyarakat lokal ataupun tamu luar desa, selalu dilakukan dengan sikap hormat dan kesadaran penuh.

“Masyarakat Tengger sejak dulu memegang prinsip bahwa tempat ini bukan sekadar objek wisata,” ujar Pak Surianto, duduk bersila di dekat batu nisan tua yang diselimuti lumut. “Gunung Griyang adalah simbol kehidupan dan ajaran orang tua yang harus dijaga.”

Makam di gunung Griyang tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari batas budaya masyarakat. Dalam tradisi Tengger, arah makam menjadi penting. Makam-makam di sini selalu ditata dengan kepala menghadap selatan—suatu aturan adat yang masih dipertahankan hingga sekarang dan diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan arah kosmis.

Selain nilai spiritual dan budaya, Gunung Griyang juga menghadirkan suasana alam yang menenangkan. Pepohonan besar menaungi area makam, sementara tanaman perdu tumbuh teratur di sepanjang jalur masuk. Suasana sejuk dan asri membuat pengunjung seakan diajak untuk berjalan perlahan, sembari mengheningkan pikiran. Di beberapa titik, bendera merah putih dipasang secara sederhana, menegaskan bahwa warisan leluhur adalah bagian dari kecintaan mereka terhadap tanah air.

Bagi warga setempat, menjaga kawasan ini bukanlah tugas yang dibebankan pemerintah, melainkan panggilan moral. Karman, ketua kelompok sadar wisata desa, menyampaikan bahwa perawatan situs dilakukan secara gotong royong hampir setiap pekan.

“Setiap Minggu pagi, anak muda dan bapak-bapak turun. Ada yang membersihkan daun, ada yang memperbaiki jalur, dan ada yang menata tanaman,” ujarnya sambil tersenyum. “Tidak ada anggaran besar, tapi yang penting tempat ini tetap terawat.”

Upaya warga menjaga Gunung Griyang mencerminkan nilai Sapta Pesona yang hidup tanpa harus dituliskan secara formal: kawasan tetap bersih, rapi dan tertib, alam terjaga sehingga suasana sejuk, keramahan warga membuat pengunjung merasa aman dan disambut, dan setiap kunjungan meninggalkan kesan dan kenangan mendalam.

Tidak hanya warga lokal yang datang berziarah. Terkadang wisatawan dari luar daerah juga berkunjung untuk belajar tentang tradisi dan sejarah Tengger. Sulastri, pengunjung asal Malang, mengaku terkesan dengan suasana damai yang tidak ia temukan di kawasan wisata populer lainnya. “Suasananya sangat menenangkan,” tuturnya. “Saya merasa seperti benar-benar masuk ke ruang belajar budaya, bukan sekadar jalan-jalan.”

Gunung Griyang juga menjadi tempat penting bagi generasi muda. Melalui lokasi ini, mereka belajar bahwa budaya bukan hanya lewat buku pelajaran atau upacara resmi, tetapi melalui tempat yang hidup dan masih dipraktikkan sehari-hari. Banyak pemuda desa merasa bahwa merawat situs ini sama dengan merawat identitas mereka sendiri.

Menjelang siang, matahari menembus dahan pohon, menciptakan bayangan panjang yang menari di tanah hutan. Sejumlah pengunjung mulai turun, melanjutkan aktivitas masing-masing. Namun senyap yang tersisa justru meninggalkan kesan lain: bahwa Gunung Griyang tidak hanya menyimpan makam tua, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga sejarah, alam, dan kepercayaan mereka tanpa kehilangan jati diri.

Gunung Griyang memang bukan destinasi wisata besar dengan fasilitas lengkap atau keramaian pengunjung. Tapi bagi mereka yang datang dengan hati terbuka, kawasan ini menawarkan perjalanan yang lebih dalam: perjalanan menuju akar budaya, rasa hormat kepada leluhur, dan ruang hening untuk mengenang dari mana kita berasal.

Author : Diki Nafiudin 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial