Portalarjuna.net, Singosari – Di sudut Desa Candirenggo, tepatnya di Jalan Kartanegara, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, sebuah monumen batu andesit berdiri tegak menantang waktu. Candi Singosari, sebuah mahakarya agung dari abad ke-13, bukan sekadar tumpukan batu kali setinggi 17 meter dengan luas pondasi 14×14 meter. Ia adalah saksi bisu sekaligus pusaka terakhir dari kejayaan Raja Kertanegara, penguasa kelima sekaligus penutup dinasti Kerajaan Singosari yang memerintah pada tahun 1268-1292.
Memasuki area situs ini, pengunjung akan segera merasakan atmosfer pesona candi. Lingkungan yang bersih, sejuk, dan tertata rapi menciptakan rasa aman dan nyaman bagi siapa saja yang ingin menyelami sejarah. Struktur candi ini secara filosofis membagi kehidupan menjadi empat tingkatan vertikal yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa-Hindu masa lampau.
Bagian paling bawah adalah Batur, sebuah pondasi atau teras luas yang menjadi alas suci tempat kaki manusia berpijak sebelum memasuki ruang-ruang sakral. Di atasnya, terdapat Kaki Candi yang disebut Bhurloka, sebuah simbolisme kehidupan alam bawah atau dunia fana. Naik ke bagian Badan Candi, kita memasuki Bwahloka, sebuah ruang perantara yang melambangkan kehidupan di antara langit dan bumi. Puncaknya, yang disebut Swahloka, menjulang indah sebagai simbol kayangan atau tempat persemayaman para dewa. Pembagian ini bukan sekadar urusan arsitektur, melainkan sebuah pesan sosial-budaya bahwa hidup adalah sebuah pendakian spiritual menuju kesempurnaan.
Candi Singosari memiliki keunikan tersendiri dengan adanya enam relung atau ruangan. Ruang utama yang dikenal sebagai Garbha graha, dahulunya merupakan pusat energi spiritual, tempat dilaksanakannya upacara suci agama Hindu-Buddha aliran Tantrayana. Di ruang gelap yang sarat akan aroma sejarah inilah, abu jenazah Raja Kertanegara didharmakan. Di tengah ruangan, masih tersisa sebuah Yoni, lambang kesuburan dan keagungan dewi, meski pasangannya, Lingga (lambang Dewa Siwa), kini telah tiada karena dibawa ke Belanda di masa lalu.
Keindahan estetika candi ini memuncak pada relief Mukakala atau Irtimuka. Terdapat delapan ukiran wajah raksasa yang dipahat dengan detail yang sangat kuat, berfungsi sebagai penolak bala dari gangguan luar. Jika diperhatikan dengan seksama, tampak sebuah keunikan: relief di bagian atas telah terukir sempurna, namun di bagian bawah masih polos dan kasar. Fenomena ini memberikan kesan estetika yang dramatis, seolah-olah waktu tiba-tiba berhenti berputar saat para seniman kerajaan sedang memahat batu-batu andesit tersebut, meninggalkan warisan yang “setengah abadi”.
Bicara soal Candi Singosari adalah bicara soal kerinduan. Sebagian besar penghuni aslinya, yakni Arca Ganesha, Dewi Durga Mahesasuramardini, dan Nandhiswara pernah melanglang buana hingga ke Belanda. Dan pada November 2023, momentum bersejarah terjadi, arca-arca tersebut dikembalikan ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Meski arca telah kembali ke Indonesia, pihak pengelola yaitu Bapak Damanhuri dengan bijak menyarankan agar arca tersebut disimpan di Museum Nasional (Gajah) Jakarta. Alasannya logis dan penuh tanggung jawab, demi keamanan dan perawatan yang sangat sulit jika diletakkan di ruang terbuka candi. Di sini, nilai tanggung jawab lebih diutamakan daripada sekadar ego kepemilikan.
Candi Singosari, yang ditemukan kembali oleh Nicholas Engelhard pada 1803 dan direnovasi pada 1934-1937, mengajarkan kita tentang nilai pembelajaran mengenai ketangguhan bangsa. Ia membuktikan bahwa identitas tidak akan pernah benar-benar punah selama ada kepedulian untuk merawatnya.
Pesan moral yang paling mendalam dari situs ini adalah tentang keikhlasan. Meskipun ruang-ruang candi kini tampak sunyi tanpa arca aslinya, jiwa dan sejarah Singosari tetap bergetar di Desa Candirenggo. Kita diajak untuk memahami bahwa menghargai budaya tidak hanya terbatas pada pemujaan wujud fisik, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur, ketertiban, dan keramahtamahan saat berkunjung.
Saat ini, hanya arca Siwa Maha Guru atau juga disebut Resi Agastya yang masih setia menempati relung selatan. Sang Resi berdiri tegak seolah menjadi penjaga terakhir yang mengingatkan setiap pengunjung bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan adalah cahaya yang abadi cahaya yang melampaui batas-batas negara, melintasi samudera, dan menembus sekat-sekat zaman.
Author : Jesslyn Aulia










