Portalarjuna.net, Malang – Di tengah kepulan kabut yang menyelimuti punggungan Gunung Kawi, derap langkah para pendaki memecah sunyi di ketinggian 2.603 meter di atas permukaan laut. Bukan sekadar wisata religi yang selama ini melekat pada namanya, Gunung Kawi menyimpan sisi petualangan yang menantang bagi mereka yang berani menembus jalur setapak menuju Puncak Batu Tulis (23/01/2026).
Pagi itu, mentari seolah malu-malu menampakkan diri di balik pohon-pohon cemara yang berdiri kokoh. Di antara rombongan pendaki yang beristirahat di dekat papan penanda puncak, nampak Andini, seorang pendaki muda yang terpaku menatap hamparan awan di bawahnya.
Bagi Andini, mendaki Kawi bukan sekadar adu fisik, melainkan cara untuk menemukan ketenangan yang tidak ia dapatkan di hiruk-pikuk kota.
“Ada rasa yang sulit dijelaskan saat sampai di Batu Tulis ini. Capeknya luar biasa karena jalurnya lumayan menguras tenaga, tapi begitu kabut tersingkap dan kita lihat pemandangan dari sini, rasanya seperti dunia berhenti sejenak,” ujar Andini sembari membetulkan posisi ranselnya.
Ia berkisah bahwa pendakian kali ini memberinya pelajaran tentang kesabaran. Gunung Kawi, menurutnya, memiliki karakter yang unik—mistis namun menenangkan. Batu Tulis sendiri menjadi saksi bisu perjuangan para pendaki yang ingin menaklukkan ego mereka sendiri di ketinggian.
“Mendaki itu bukan soal puncaknya saja, tapi soal siapa yang menemani kita berjuang di jalur. Di sini, kita belajar saling jaga,” tambahnya lagi sambil tersenyum menatap rekan-rekan sependakiannya yang sedang mengabadikan momen.
Meski jalur menuju Puncak Batu Tulis dikenal cukup terjal dan tertutup vegetasi yang rapat, pesonanya tak pernah surut. Keindahan pohon-pohon tua yang tertutup lumut dan udara dingin yang menusuk tulang justru menjadi candu yang membawa Andini dan pendaki lainnya kembali lagi.
Saat kabut kembali turun menutup pandangan, Andini bersiap untuk turun. Ia membawa pulang bukan hanya foto-foto estetik, tapi sebuah memori tentang keheningan puncak 2.603 MDPL yang selalu berhasil menenangkan jiwa.
Author : Bilkis Afidatul Farhana










