Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 2 Mei 2026

Pemugaran Candi Jawi, Upaya Menjaga Warisan SejarahvSinghasari di Lereng Gunung Welirang

Portalarjuna.net, Pasuruan — Upaya pelestarian warisan budaya kembali mendapat perhatian melalui proses pemugaran Candi Jawi, salah satu peninggalan penting Kerajaan Singhasari yang terletak di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Pemugaran candi ini menjadi langkah penting untuk menjaga keaslian bangunan kuno berusia lebih dari tujuh abad, sekaligus melestarikan nilai sejarah yang melekat padanya.

Candi Jawi telah mengalami beberapa fase pemugaran, baik pada masa pemerintahan kolonial  Belanda maupun setelah Indonesia merdeka. Pemugaran pertama dilakukan pada 1938 hingga 1941. Saat itu, kondisi candi telah banyak mengalami kerusakan akibat usia, gempa, dan kemungkinan penjarahan pada masa lampau. Sebagian besar batu candi ditemukan tercecer, runtuh, bahkan beberapa hilang.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian berinisiatif melakukan pemugaran untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Namun, proses tersebut tidak dapat diselesaikan karena situasi perang dunia, sehingga pemugaran berhenti dan candi dibiarkan dalam keadaan belum sempurna.

Puluhan tahun kemudian, perhatian terhadap Candi Jawi kembali muncul.Pada1975 hingga 1980, pemerintah Indonesia melalui Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan SejarahdanPurbakalamelaksanakanpemugaranbesar.Dalamprosesini,paraarkeolog,ahli struktur, dan tenaga konservasi dilibatkan untuk mengembalikan bentuk asli candi sejauh mungkin berdasarkan data sejarah dan sisa struktur yang ada.

Penggalian dilakukan untuk menemukan kembali batu-batu candi yang tertimbun, sementara rekonstruksi dilakukan dengan metode konservasi yang ketat. Setelah pemugaran tersebut selesai, Candi Jawi diresmikan kembali pada tahun 1982 sebagai salah satu situs cagar budaya Indonesia.

Alasan pemugaran tidak hanya terkait dengan kerusakan fisik, tetapi juga pentingnya Candi Jawi sebagai bukti sejarah masa kejayaan Kerajaan Singhasari. Berdasarkan naskah kuno Negarakertagama, candi ini dipercaya sebagai tempat pedharmaan Raja Kertanegara, raja terakhir Singhasari yang dikenal sebagai pemimpin visioner dan tokoh penting dalam sejarah Nusantara. Candi ini juga mencerminkan perpaduan dua ajaran besar, yaitu Hindu Syiwa dan Buddha, sehingga menjadi simbol toleransi dan keharmonisan spiritual pada masa itu. Keunikan ini menjadikan Candi Jawi sangat bernilai untuk dilestarikan.

Dalam proses pemugaran, pemerintah mengutamakan keaslian material. Bagian-bagian candi yang masih utuh tetap dipertahankan pada posisi aslinya. Namun, karena banyak batu hilang atau rusak parah, sebagian struktur harus dilengkapi menggunakan batu baru yang disesuaikan dengan warna dan bentuk aslinya. Batu andesit dan batu putih digunakan kembali untuk memperkuat kaki candi, tubuh candi, dan puncak bangunan. Meski ada beberapa unsur tambahan, sebagian besar struktur utama Candi Jawi masih merupakan bagian asli dari abad ke-13.

Selain itu, beberapa arca dan relief yang sebelumnya menghiasi area candi telah dipindahkan ke museum untuk alasan keamanan. Pemindahan ini dilakukan agar artefak berharga tersebut tidak rusak atau hilang akibat cuaca. Sementara itu, area sekitar candi terus ditata agar tetap rapi dan dapat menjadi tempat wisata edukatif bagi masyarakat.

Setelah pemugaran selesai, Candi Jawi mulai dibuka untuk umum sebagai objek wisata sejarah. Pada pertengahan 1980-an, pemerintah daerah menjadikan candi ini sebagai destinasi wisata unggulan. Keindahan arsitektur dan suasana sejuk pegunungan membuat Candi Jawi menjadi tempat favorit pengunjung, baik wisatawan lokal maupun luar daerah. Kawasan candi juga sering digunakan untuk kegiatan yang mengangkat nilai kebudayaan dan menunjukkan kebudayaan candi tersebut.

Meski dalam kondisi yang cukup baik, tantangan pelestarian tetap ada. Faktor lingkungan seperti kelembapan tinggi, hujan, dan lumut dapat mempercepat pelapukan batu candi. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama lembaga cagar budaya secara rutin melakukan pengecekan struktur, pembersihan lumut, hingga perawatan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Pelestarian Candi Jawi bukan hanya soal menjaga bangunan fisik, tetapi juga merawat identitas  budaya dan sejarah masyarakat Pasuruan serta Jawa Timur.

Melalui pemugaran yang dilakukan selama beberapa dekade, Candi Jawi kini menjadi saksi sejarah yang dapat dinikmati generasi masa kini. Kehadirannya menjadi pengingat tentang kejayaan masa lalu sekaligus simbol harmoninya keberagaman keyakinan yang tumbuh di Nusantara.

Dengan komitmen perawatan yang berkelanjutan, Candi Jawi diharapkan tetap berdiri kokoh sebagai warisan berharga yang dapat terus dipelajari, dikunjungi, dan dihargai oleh generasi mendatang.

 

Autor:khoiruddin

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial