Portalarjuna.net, Pasuruan — Cahaya pagi menembus lembut di antara deretan payung pastel yang menggantung rapi di atas lorong kecil di Kelurahan Kebonsari. Warna-warna itu bergerak pelan tertiup angin, menciptakan bayangan yang menari di atas paving yang masih lembap oleh embun. Suasana hangat itu menyambut setiap pengunjung yang datang, termasuk Rizka Aulia (23), wisatawan asal Malang, yang tampak terpesona sejak langkah pertama. “Cantik sekali dari sini, kayak jalan di luar negeri. Tapi tetap terasa suasana kampungnya,” ujarnya sambil mengangkat ponselnya untuk memotret pemandangan.
Pasuruan dikenal sebagai salah satu kota dengan jejak tradisi Arab yang cukup kuat, baik dalam kehidupan sosial, perdagangan, hingga religi. Karena itu, konsep Wisata Payung Madinah dipilih bukan sekadar untuk estetika, tetapi juga sebagai cara merawat jejak sejarah tersebut. Melalui dekorasi bernuansa Timur Tengah, warga ingin mengenalkan kembali identitas itu dengan cara yang lebih kreatif dan modern.
Sambil berjalan perlahan, Rizka mengatakan bahwa tempat ini memberikan pengalaman yang nyaman, tidak hanya sebagai spot foto. “Yang bikin saya suka itu suasananya adem. Warganya juga ramah-ramah,” tuturnya. Ia mengaku mengetahui destinasi ini dari unggahan media sosial, sebelum akhirnya memutuskan datang bersama dua temannya. “Ternyata tempatnya lebih bagus daripada di foto,” tambahnya sambil tersenyum.
Beberapa meter dari lokasi Rizka berfoto, aroma minuman jeruk peras tercium dari sebuah gerobak kecil. Hasan (48), pedagang minuman yang sudah berjualan di kawasan itu lima tahun terakhir, tampak sibuk melayani pengunjung. Dengan tangan cekatan, ia menuangkan jeruk segar ke dalam gelas plastik sambil berbincang ringan dengan pelanggannya. “Sejak tempat ini ramai, Alhamdulillah pendapatan saya naik,” katanya. Menurutnya, Payung Madinah membawa perubahan besar bagi kehidupan ekonomi warga sekitar. “Dulu jarang ada orang lewat. Sekarang tiap hari ada yang datang, apalagi kalau akhir pekan,” tambahnya.
Hasan juga mengaku bangga menjadi bagian dari dinamika baru kawasan wisata ini. Banyak warga yang mulai membuka usaha kecil, seperti penjual camilan tradisional, parfum khas Arab, es krim, hingga penjual aksesori. Baginya, kebersamaan warga dalam menjaga suasana nyaman menjadi kunci agar Payung Madinah tetap diminati wisatawan. “Yang penting itu jaga kebersihan dan sopan sama pengunjung. Biar mereka betah dan mau balik lagi,” ujarnya ramah.
Menjelang siang, kawasan tersebut semakin ramai. Anak-anak berlarian kecil sambil melihat bayangan warna-warni di tanah, sementara pasangan muda berhenti di setiap sudut lorong untuk mendapatkan foto terbaik. Beberapa wisatawan tampak menikmati pemandangan sambil duduk di bangku kecil yang disediakan warga. Suasana sederhana itu menjadi daya tarik tersendiri, karena wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat yang ramah dan terbuka.
Nuansa budaya dan religi yang menyatu dalam keindahan visual Payung Madinah memberikan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan mata, tetapi juga menenangkan hati. Bagi sebagian pengunjung, tempat ini menjadi ruang untuk sejenak melambatkan langkah dari hiruk-pikuk kota. Bagi warga, Payung Madinah adalah bukti bahwa kreativitas sederhana bisa mengubah lingkungan dan kehidupan mereka.
Saat cahaya senja mulai turun, warna pastel payung tampak lebih hangat, memantulkan suasana lembut yang membuat banyak pengunjung enggan beranjak pulang. Payung Madinah bukan hanya lorong dengan dekorasi cantik, melainkan ruang sosial yang mempertemukan budaya, harapan, dan keindahan. Di sini, setiap langkah pengunjung membawa cerita baru, dan setiap sudut lorong menjadi saksi bahwa keindahan bisa lahir dari kerja sama dan cinta pada lingkungan.
Pada akhirnya, Wisata Payung Madinah mengajarkan bahwa pariwisata bukan hanya tentang lokasi, tetapi tentang manusia yang hidup di dalamnya. Tentang warga yang merawat, pedagang yang bertahan, dan wisatawan yang menemukan ketenangan dari sebuah lorong kecil yang kini menjadi simbol harmoni Kota Pasuruan.
Author : M Slamet Basofi










