Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 2 Mei 2026

Pesona Topeng Panji di Museum Ganesha, Wajah Tradisi yang Terus Bernapas

Portalarjuna.net, Pasuruan – Di balik dinding Graha Kencana, Kota Malang, Museum Ganesha menyimpan wajah-wajah kayu yang tak sekadar diam dipajang. Topeng-topeng itu seolah berbicara, mengisahkan perjalanan panjang tradisi, kepercayaan, dan identitas budaya masyarakat Malang. Sejak berdiri pada 5 Juni 2019, Museum Ganesha menempatkan topeng sebagai bagian penting dari narasi kebudayaan, terutama Topeng Panji Malangan yang menjadi ciri khasnya.

Museum ini menghadirkan ruang yang mempertemukan pengunjung dengan sejarah secara visual dan kontekstual. Koleksinya tersebar di beberapa lantai, mulai dari peninggalan Kerajaan Singosari hingga Majapahit, mainan-mainan tradisional, hingga ruang etnografi yang menjadi jantung cerita budaya Panji. Di ruang inilah topeng-topeng Panji Malang mengambil peran utama.

“Saya Take, selaku edukator di Museum Ganesha Malang. Saya akan menceritakan sedikit tentang sejarah Museum Ganesha yang berdiri 5 Juni 2019, tepatnya sebelum pandemi Covid melanda. Museum ini bertempat di Graha Kencana di Kota Malang. Kita memiliki beberapa koleksi di sini; kira-kira memiliki dua lantai. Di lantai kedua ada koleksi tentang Kerajaan Singosari sampai Majapahit, nanti ada juga koleksi mainan-mainan zaman dulu. Di lantai tiga kita punya etnografis, yaitu pertunjukan tradisional yang bertemakan Panji. Koleksi tersebut menjadi masterpiece kami, karena Malang sendiri terkenal dengan tradisi Panji, dan kami coba mendorong tradisi Panji yang ada di Malang dengan menampilkan topeng Panji Malang,” ujar Mas Take.

Di lantai tiga, deretan topeng dari berbagai daerah menyambut pengunjung. Ada Topeng Malangan, Topeng Cirebon, gaya Surakarta, Yogyakarta, hingga Madura. Meski ragamnya beragam, Topeng Panji Malang tetap menjadi pusat perhatian. Bagi masyarakat Malang, topeng bukan sekadar karya seni, melainkan bagian dari pertunjukan wayang orang yang telah hidup berdampingan dengan masyarakatnya selama ratusan tahun.

Pilihan cerita Panji sendiri memiliki latar sosial yang kuat. Mas Take menjelaskan bahwa masyarakat Tengger pada masa lalu menghindari pertunjukan yang berkaitan dengan tokoh dewa. Kisah Panji pun menjadi alternatif karena tidak memuat unsur ketuhanan, namun tetap sarat nilai moral dan budaya lokal.

“Akhirnya masyarakat Malang mengadopsi cerita Panji karena cerita Panji tidak mengandung dewa. Pertunjukannya bukan wayang kulit, melainkan wayang orang yang memakai topeng. Dari sana tradisi topeng Panji di Malang berkembang dan masih lestari sampai sekarang,” jelasnya.

Tradisi tersebut tidak berhenti di ruang museum. Hingga kini, pertunjukan topeng Panji masih rutin digelar di beberapa sanggar, salah satunya Sanggar Asmoro Bangun di Kedungmonggo, Pakisaji, yang merupakan warisan almarhum Mbah Karimun dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Museum pun menjadi penghubung antara artefak dan praktik budaya yang masih hidup di masyarakat.

Selain fungsi pertunjukan, topeng juga menyimpan makna lain yang lebih personal dan spiritual. Mas Take menuturkan bahwa pada masa tertentu, topeng digunakan sebagai bekal kubur untuk mengenang wajah jenazah. Praktik ini menunjukkan bahwa topeng tidak hanya merepresentasikan seni, tetapi juga memori, penghormatan, dan ikatan emosional masyarakat dengan orang-orang yang telah tiada.

Bagi generasi muda, Museum Ganesha menawarkan lebih dari sekadar pengalaman melihat koleksi. Ia membuka ruang pemahaman bahwa topeng Panji adalah simbol identitas budaya yang terus bernapas hidup dalam pertunjukan, cerita, dan nilai-nilai lokal. Di tengah arus modernisasi, topeng-topeng itu berdiri sebagai pengingat bahwa tradisi dapat tetap relevan selama dirawat dan diceritakan dengan cara yang dekat dengan zamannya.

Author : Eka Suryanti

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial