Portalarjuna.net, Sukorejo – Rendra (16), remaja asal Dusun Krajan desa Dukuhsari di Kabupaten Pasuruan, harus menghentikan pendidikannya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar pada 2021. Pertengkaran dengan teman sebaya dan praktik perundungan membuatnya enggan kembali ke sekolah, meski pihak sekolah telah berupaya membujuknya.
Sejak putus sekolah, Rendra menghabiskan waktu di rumah dan lingkungan sekitar tanpa mengikuti pendidikan formal. Dalam tiga bulan terakhir, ia mulai bekerja sebagai tukang las dengan penghasilan tidak menentu, rata-rata sekitar Rp500 ribu per bulan.
Ibu Rendra, Mari, mengatakan keputusan anaknya berhenti sekolah menjadi pukulan berat bagi keluarga. “Gurunya sudah datang ke rumah dan membujuk, tapi Rendra tetap tidak mau sekolah lagi,” kata Maryam.
Kondisi ekonomi keluarga turut membatasi pilihan. Ayah Rendra bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan dan memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang otomotif elektronik. Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Kasus yang dialami Rendra mencerminkan persoalan pendidikan di desa tersebut. Data observasi menunjukkan hanya sebagian kecil anak yang mampu melanjutkan pendidikan hingga SMA, sementara lulusan perguruan tinggi sangat terbatas. Faktor ekonomi dan lingkungan sosial masih menjadi penyebab utama anak putus sekolah.
Kisah Rendra menggambarkan bagaimana persoalan pendidikan, ekonomi, dan lingkungan sosial saling berkaitan dan berdampak langsung pada masa depan anak di wilayah pedesaan.
Author : Rizka Nuriyah












