Portalarjuna.net, Tosari – Kabut tipis menyelimuti malam di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Udara dingin khas pegunungan menusuk perlahan, berpadu dengan aroma dupa yang mengepul ke langit. Di sebuah pendopo desa, masyarakat Tengger berkumpul dalam lingkaran yang tertata rapi. Di hadapan mereka, sesaji tersusun dengan penuh makna: pisang raja yang menguning, ayam panggang utuh, hasil bumi, daun pisang, serta perlengkapan ritual lainnya. Malam itu, Upacara Adat Rangka Tawang kembali digelar, menjadi ruang sakral bagi masyarakat Tengger untuk menyampaikan doa, rasa syukur, dan harapan hidup yang selaras dengan alam.
Rangka Tawang merupakan salah satu upacara adat penting dalam kehidupan masyarakat Tengger. Ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur atas limpahan rezeki, keselamatan, serta keseimbangan hidup yang telah diberikan. Lebih dari sekadar tradisi, Rangka Tawang adalah refleksi nilai spiritual masyarakat Tengger yang memandang alam, manusia, dan Tuhan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Prosesi upacara dipimpin oleh Dukun Pandita, tokoh adat yang memiliki peran sentral dalam kehidupan spiritual masyarakat Tengger. Dengan busana adat lengkap dan ikat kepala khas, sang dukun melantunkan mantra-mantra suci dalam bahasa Tengger. Setiap bait doa diucapkan dengan intonasi tenang dan penuh penghayatan, diiringi kepulan asap kemenyan yang perlahan memenuhi ruang. Suasana hening tercipta, hanya terdengar suara doa dan desir angin malam yang menembus sela-sela pendopo.
Warga yang hadir mengikuti jalannya ritual dengan sikap khidmat. Sebagian duduk bersila, sebagian menundukkan kepala, memusatkan pikiran pada doa yang dipanjatkan. Tidak ada percakapan keras atau aktivitas yang mengganggu jalannya upacara. Ketertiban menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi, mencerminkan penghormatan masyarakat Tengger terhadap nilai sakral tradisi leluhur.
“Rangka Tawang adalah pengingat bagi kami untuk selalu bersyukur dan menjaga keseimbangan hidup,” ujar Sutomo, tokoh masyarakat Tengger Tosari. Menurutnya, ritual ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap dijaga hingga kini meski zaman terus berubah. “Kami diajarkan untuk hidup selaras dengan alam. Jika alam dijaga, maka kehidupan akan tetap lestari,” katanya.
Persiapan Rangka Tawang dilakukan secara gotong royong oleh warga desa. Sejak siang hari, masyarakat telah berkumpul untuk menyiapkan sesaji, membersihkan lokasi upacara, dan menata perlengkapan ritual. Kaum perempuan berperan dalam menyiapkan hasil bumi dan sesaji, sementara kaum laki-laki membantu penataan tempat serta perlengkapan lainnya. Kebersamaan ini menjadi cerminan kuatnya ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat Tengger.
Upacara Rangka Tawang tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga sosial dan budaya. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan antargenerasi, tempat nilai-nilai adat diwariskan secara langsung dari para sesepuh kepada generasi muda. Anak-anak dan remaja Tengger tampak mengikuti prosesi dengan penuh rasa ingin tahu, belajar memahami makna setiap tahapan ritual yang berlangsung.
Dalam beberapa tahun terakhir, Rangka Tawang juga menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke kawasan Tosari dan Bromo. Kehadiran wisatawan disambut dengan sikap terbuka, namun tetap dibatasi oleh aturan adat yang ketat. Wisatawan diperbolehkan menyaksikan prosesi dari jarak tertentu, tanpa mengganggu jalannya ritual atau mengambil gambar secara sembarangan.
“Kami tidak menutup diri dari wisatawan, tetapi kesakralan adat harus tetap dijaga,” ujar Kepala Desa Tosari. Menurutnya, tradisi Tengger merupakan kekayaan budaya yang dapat dikenalkan kepada publik secara bijak. Wisata budaya berbasis kearifan lokal dinilai mampu memberikan pengalaman yang bermakna sekaligus edukatif bagi pengunjung.
Nilai-nilai Sapta Pesona tampak nyata dalam pelaksanaan upacara Rangka Tawang. Rasa aman dan tertib tercermin dari jalannya prosesi yang teratur. Kebersihan lokasi upacara dijaga bersama oleh warga, sementara keindahan sesaji dan tata ruang menambah kekhusyukan suasana. Udara sejuk pegunungan Tosari semakin memperkuat kesan damai, dan keramahan masyarakat Tengger meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang hadir.
Di tengah arus modernisasi dan perkembangan pariwisata, masyarakat Tengger Tosari tetap teguh menjaga identitas budaya mereka. Rangka Tawang bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol kearifan lokal yang terus hidup. Dari lereng Tosari, doa-doa itu dipanjatkan, menyatu dengan kabut dan langit malam, menjadi penanda bahwa tradisi, spiritualitas, dan harmoni dengan alam masih terjaga dengan kuat hingga hari ini.
Author : Mohammad Nadzirum Mubin










