Pasuruan, Jawa Timur
Rabu, 27 Mei 2026

Story Gen Z–Milenial di Balik Segelas Kopi Harlem Surabaya

Portalarjuna.net, Surabaya – Di tengah ritme Surabaya yang terus bergerak, coffeeshop tak lagi sekadar tempat minum kopi. Bagi Gen Z dan milenial, ia menjelma menjadi ruang aman untuk bekerja, bertukar cerita, bahkan sekadar menepi dari hiruk-pikuk kota. Fenomena ini terlihat jelas di kawasan Tunjungan, tepatnya di Toko Kopi Harlem, sebuah kedai yang memadukan kultur kopi, ruang kreatif, dan identitas urban dalam satu pengalaman.

Berjarak hanya beberapa langkah dari Jalan Tunjungan—ikon sejarah sekaligus denyut modern Surabaya—Harlem menjadi titik temu bagi mereka yang ingin “berhenti sejenak” tanpa benar-benar meninggalkan produktivitas.

Jalan Tunjungan, Surabaya
Fotografer: Agus Dwi Nur Cahyo

Jalan Tunjungan tak pernah benar-benar tidur. Kawasan ini menjadi saksi pergeseran gaya hidup generasi muda Surabaya, dari sekadar ruang lalu lintas menjadi pusat pertemuan ide, obrolan, dan budaya nongkrong yang kian lekat dengan coffeeshop.

Tampak Depan Toko Kopi Harlem
Fotografer: Agus Dwi Nur Cahyo

Fasad Toko Kopi Harlem di Jl. Embong Malang No.10 tampil sederhana namun tegas. Letaknya yang strategis, dekat kawasan Tunjungan, menjadikannya persinggahan favorit pekerja kreatif, mahasiswa, hingga penikmat kopi yang gemar coffee hopping.

Makanan dan Minuman Harlem
Fotografer: Agus Dwi Nur Cahyo

Harlem tak hanya menjual kopi, tetapi pengalaman rasa. The Club Series seperti Caramel Club dan Fruity Club menawarkan karakter minuman yang ringan namun berlapis. Sementara The Biggle – Uptown Greens, salad segar dengan dressing khas, dan The Cozy Donuts – Sweety Palms, donat bertabur gula aren, menjadi pilihan nyaman bagi mereka yang ingin ngemil.

Bagi Gen Z dan milenial, coffeeshop bukan lagi tempat “kabur” dari pekerjaan, melainkan justru ruang alternatif untuk tetap produktif. Hal ini dirasakan langsung oleh Akmal (22), pengunjung Harlem asal Sidoarjo, yang datang ke kedai ini pada hari yang sama.

Akmal mengaku kerap menghabiskan waktu di coffeeshop, baik untuk bekerja maupun sekadar menikmati suasana. Latar belakangnya sebagai mantan barista membuat ia cukup selektif dalam memilih tempat.

“Sekarang coffeeshop itu bukan cuma soal kopi enak, tapi soal suasana. Kalau tempatnya nyaman, kita bisa lama, bisa fokus, tapi juga nggak ngerasa tertekan,” ujar Akmal saat ditemui di Harlem, Minggu (11/1/2026).

Menurutnya, lokasi Harlem yang dekat dengan Tunjungan menjadi nilai tambah tersendiri.

“Habis dari jalan Tunjungan, mampir ke sini tuh pas. Capek jalan, tapi pengin tempat yang tenang. Harlem dapet dua-duanya,” katanya.

Interior Harlem
Fotografer: Agus Dwi Nur Cahyo

Interior Harlem mengusung konsep industrial ala Amerika Serikat, terinspirasi dari kawasan Harlem, New York. Dominasi material kasar, pencahayaan hangat, dan tata ruang terbuka menciptakan suasana yang mendukung kerja mandiri, diskusi santai, hingga momen refleksi personal.

Sebagai seseorang yang pernah bekerja sebagai barista dan gemar coffee hopping, Akmal menilai Harlem cukup konsisten dalam menyajikan pengalaman kopi.

“Dari sisi rasa, minumannya balance. Nggak terlalu berat, cocok buat yang mau nongkrong lama. Ini penting, soalnya kalau kopinya terlalu strong, cepat capek,” jelasnya.

Ia juga menyoroti perubahan perilaku generasi muda yang semakin menjadikan coffeeshop sebagai ruang sosial utama.

“Sekarang nongkrong itu bukan cuma buat ngobrol. Ada yang kerja, ada yang healing, ada yang cari ide. Coffeeshop jadi ruang yang fleksibel buat semuanya,” tambah Akmal.

Lukisan dan Merchandise Harlem
Fotografer: Agus Dwi Nur Cahyo

Sentuhan seni dan merchandise sederhana memperkuat identitas Harlem sebagai ruang kreatif. Lukisan dan produk yang dipajang bukan sekadar dekorasi, tetapi cerminan gaya hidup urban yang dekat dengan ekspresi diri—nilai yang resonan dengan Gen Z dan milenial.

Bagi generasi muda, coffeeshop seperti Harlem bukan hanya tempat “nongkrong estetik”. Ia menjadi ruang sosial alternatif: tempat bekerja tanpa tekanan kantor, berdiskusi tanpa batas formal, dan menikmati waktu sendiri tanpa rasa canggung. Di sinilah kopi berperan sebagai medium, bukan tujuan akhir.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara Gen Z dan milenial memaknai ruang publik. Mereka mencari tempat yang fleksibel, autentik, dan memiliki cerita—sesuatu yang ditawarkan Harlem di tengah padatnya pusat kota Surabaya.

Di antara deru kendaraan dan padatnya aktivitas Tunjungan, segelas kopi di Harlem menjadi pengingat sederhana: bahwa berhenti sejenak juga bagian dari perjalanan.

Author: Agus Dwi Nur Cahyo

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial