Pasuruan, Jawa Timur
Kamis, 30 April 2026

Film “Skizo” Tampilkan Realita Kelam Bullying dan Gangguan Mental Remaja

Portalarjuna.net Pasuruan – Film Skizo merupakan karya film tugas mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Yudharta Pasuruan yang dirilis pada 01/02/2026. Film ini mengangkat tema dampak ekstrem bullying terhadap kesehatan mental, dengan fokus pada gangguan psikologis skizofrenia yang muncul akibat trauma dan tekanan sosial yang berkepanjangan.

Film ini dibintangi oleh Cissillya Anggia Putri Safila sebagai Aluna, tokoh utama yang digambarkan sebagai seorang siswi yatim piatu dengan kepribadian introvert, sensitif, dan mudah merasa takut. Trauma kehilangan yang dialami Aluna sejak kecil membentuk kondisi psikologisnya dan membuatnya sulit merasa aman di lingkungan sosial.

Lingkungan sekolah Aluna jauh dari kata damai. Ia kerap menjadi sasaran bullying yang dilakukan oleh Nova dan kelompoknya, mulai dari ejekan, penghinaan, pengucilan, perlakuan tidak adil, hingga perundungan fisik. Tindakan tersebut terjadi secara berulang dan meninggalkan tekanan psikologis yang mendalam.

Satu-satunya sosok yang menjadi tempat bergantung Aluna adalah Raka, sepupunya yang telah ia anggap sebagai kakak dan pelindung. Namun, seiring memburuknya kondisi mental Aluna, ia mulai mengalami gangguan persepsi, melihat bayangan Nova yang terus menghantuinya, serta kesulitan membedakan antara kenyataan dan halusinasi.

Pada titik kritis gangguan skizofrenia, Aluna secara tidak sadar salah mengenali Raka sebagai Nova, sosok yang selama ini merundungnya. Halusinasi tersebut mendorong Aluna melakukan tindakan fatal yang justru menghancurkan satu-satunya hubungan aman dalam hidupnya, dan semakin memperparah kondisi psikologisnya.

Di bagian akhir, Aluna kembali menghadapi Nova dan kelompoknya, namun kini ia menjadi objek perundungan atas segala peristiwa yang terjadi. Tekanan batin yang menumpuk—rasa bersalah, trauma, dan gangguan mental yang tidak tertangani—membawanya pada kondisi depresi berat, hingga akhirnya Aluna memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.

Penutup film menampilkan sosok simbolik sebagai representasi trauma, rasa bersalah, dan luka batin yang tertinggal. Sosok ini menegaskan bahwa dampak bullying tidak berhenti pada satu korban, tetapi meninggalkan jejak psikologis panjang bagi lingkungan sekitarnya.

Film Skizo tidak bermaksud membenarkan tindakan bunuh diri, melainkan menjadi bentuk kritik sosial terhadap bullying serta ajakan akan pentingnya pencegahan dan penanganan kesehatan mental.

author: tim produksi film skizo

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial