Pasuruan, Jawa Timur
Selasa, 28 Juli 2026

KKN Kolaboratif ASPIKOM Sowan ke Romo Pandhita, Mengulik Filosofi “Dukun”, Kisah Tersembunyi di Balik Romo Tengger

Portalarjuna.net, Tosari – Minggu, 26 Juli 2026, Tim KKN-K Kolaboratif ASPIKOM melakukan sowan kepada Romo Pandhita di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Pasuruan. Dalam pertemuan itu, Romo Pujian, yang resmi menyandang gelar Romo Pandhita sejak 1 Agustus 2015, membagikan cerita di balik istilah “dukun” yang melekat pada sosok romo Tengger. Gelar ini menyimpan dua makna, pertama dari legenda Kaki Tejo Laksono, anak tertua Roro Anteng dan Joko Seger, leluhur asal usul Suku Tengger, kedua secara filosofis, “du” berarti shahdu (khidmat) dan “kun” berarti ucapan, yang berarti seorang romo wajib mampu menenangkan masyarakat lewat kata katanya.

Meski beragama Hindu, Romo Pujian tidak membeda bedakan warga berdasarkan agama atau kasta, karena semua dianggap “anak cucu” yang wajib ia lindungi. Sikap inilah yang membuat Desa Ngadiwono diakui Kementerian Agama sebagai desa sadar kerukunan. Yang menyatukan warga Tengger adalah adat dan budaya, seperti Unan unan (upacara tiap 5 tahun sekali) dan Paruman (pertemuan rutin tiap 6 bulan sekali). Saat ini ada dua romo di Ngadiwono, yaitu Romo Pandhita (Pujian) dan Romo Setiawan.

Untuk menjadi romo, seseorang harus lolos ujian saat bulan Kasada di Bromo, namun keputusan akhir tetap ada di tangan masyarakat yang menyetujui siapa yang layak menjadi romo sesuai kepercayaan pada leluhur yang bersemayam di Bromo. Bagi Tim KKN-K Kolaboratif ASPIKOM, sowan ini menjadi ruang belajar berharga bahwa filosofi “dukun” bukan sekadar istilah lama, melainkan pedoman hidup yang masih dipegang Romo Pujian untuk menjaga ketenangan dan kerukunan Ngadiwono melampaui perbedaan agama, di bawah bayang Gunung Bromo.

Author : Salsabilah Rachma

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial