Portalarjuna.net, Tosari – Masyarakat adat Suku Tengger Brang Kulon menggelar Pembukaan Hari Raya Karo di Balai Desa Tosari, Rabu (29/07/2026), bertepatan dengan tahun 1948 Cakawarsa atau 2026 Masehi. Acara yang dipusatkan dengan Upacara Purwakaning Karo (Sodoran) ini dihadiri oleh Camat Bakhtiar Bachri, S.H., M.M., beberapa perwakilan kampus yang tengah menjalankan program KKN, Romo Dukun, Romo Pandhito, Pejabat Desa, serta pak sanggar setempat.
Upacara dibuka dengan rangkaian prosesi adat yang dipimpin oleh Romo Dukun, mengawali pembacaan mantra serta doa keselamatan bagi seluruh warga Tengger. Sebagaimana lazimnya tradisi Karo di kawasan Brang Kulon, rangkaian upacara didahului dengan tradisi Mblara’i yang menampilkan Tari Sodor atau Sodoran, tarian yang telah dilestarikan sejak tahun 1790 oleh para sesepuh dengan membawa tongkat bambu wuluh berjumlah dua belas. Angka dua belas dalam tarian ini melambangkan dua belas bulan dalam satu tahun, sekaligus mengingatkan pada asal-usul masyarakat Tengger dari leluhur Roro Anteng dan Joko Seger.
Pasuruankab
Pasuruankab
Dalam sambutannya, salah satu warga menyampaikan makna filosofis dari perayaan ini, yakni pentingnya Kesadaran Asal-Usul (Sangkan Paraning Dumadi) sebuah pesan yang mengingatkan generasi muda bahwa manusia berasal dari Sang Hyang Widhi Wasa dan kelak akan kembali kepada-Nya, sehingga hidup harus dijalani dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati.
Camat Bakhtiar Bachri, S.H., M.M., dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Tengger Brang Kulon dalam melestarikan tradisi leluhur. Kehadiran mahasiswa KKN dari beberapa kampus dalam pembukaan Hari Raya Karo tahun ini juga dinilai sebagai bentuk dukungan generasi muda terhadap pelestarian budaya adat, sekaligus sarana edukasi lintas generasi mengenai kearifan lokal Tengger.
Secara umum, Yadnya atau Hari Raya Karo digelar setiap bulan Karo dalam penanggalan Tengger, tidak sekadar sebagai upaya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda agar tetap menjaga jati diri dan tidak meninggalkan adat istiadat. Tari Sodoran sendiri dipentaskan hanya pada momentum Hari Raya Karo, sehingga dianggap sakral oleh masyarakat adat setempat. Tribunnews
Pembukaan Hari Raya Karo di Balai Desa Tosari ini menjadi penanda dimulainya rangkaian ritual adat Tengger Brang Kulon tahun 1948 Cakawarsa. Kehadiran unsur pemerintahan, tokoh adat, kalangan akademisi, dan generasi muda dalam acara ini diharapkan dapat memperkuat semangat kebersamaan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi leluhur Tengger di tengah arus modernisasi.
Author : Salsabilah Rachma











