Portalarjuna.net., Purwodadi – Tim pengelola koleksi Kebun Raya Purwodadi rutin memeriksa kondisi ribuan pohon koleksi untuk mendeteksi tanda-tanda stres sejak dini. Leader Rehabilitasi Tanaman Koleksi PT Mitra Natura Raya, Vioranda Egga Saputra, menjelaskan bahwa pohon yang mengalami stres umumnya menunjukkan ciri fisik berupa munculnya tunas air di batang utama.
“Tunas-tunas air yang enggak diinginkan. Misal pohonnya seukuran 20 meter, cabangnya tingginya sekitar 10 meter dari pohon. Nah, sebelum cabang itu, banyak muncul seperti cabang baru. Cabang baru ini biasanya muncul di tempat yang tidak
diinginkan, itu disebut tunas air,” ujar Egga saat ditemui di area Kebun Raya Purwodadi, Sabtu (16/8/2026).
Egga menegaskan, kemunculan tunas air menjadi indikator utama yang mudah dikenali masyarakat awam untuk menilai kesehatan sebuah pohon. Tanda tersebut biasanya mengindikasikan pohon sedang stres, terserang penyakit, atau menjadi sasaran hama pemakan tanaman.
Dua Faktor Penyebab Pohon Stres
Menurut Egga, kondisi stres pada pohon dipicu oleh dua faktor utama, yakni faktor biologis dan nonbiologis. Faktor biologis mencakup serangan hama dan penyakit yang menyerang pohon secara alami. Sementara itu, faktor nonbiologis meliputi kondisi
cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, tingkat kelembapan udara, serta terpaan angin kencang.
Selain dua faktor tersebut, keterbatasan ruang tumbuh juga turut memengaruhi kesehatan pohon. Egga mencontohkan pohon koleksi yang tumbuh di area berbatas beton sehingga akarnya tidak dapat berkembang secara maksimal.
“Secara enggak langsung akarnya itu enggak bisa memanjang. Dia enggak bisa tumbuh normal karena dibatasi daerah pertumbuhannya,” jelas Egga.
Tiga Tahap Pemeriksaan Kesehatan Pohon
Tim konservasi Kebun Raya Purwodadi menerapkan tiga tahap pemeriksaan untuk memastikan tingkat risiko sebuah pohon. Tahap pertama adalah pemeriksaan visual, yakni mengamati langsung kondisi fisik pohon seperti kemunculan tunas air, retakan
kulit batang, atau pertumbuhan yang tampak tidak normal.
Tahap kedua berupa penilaian atau scoring menggunakan Form ISA, instrumen penilaian risiko pohon yang diadaptasi dari Royal Botanic Gardens, Kew, Inggris.
Formulir ini telah digunakan secara luas oleh lembaga konservasi di kawasan Asia Tenggara.
Apabila hasil skor menunjukkan tingkat risiko tinggi, tim akan melanjutkan ke tahap ketiga menggunakan alat sensor bernama Arbosonic. Alat berbasis sepuluh sensor ini mampu mendeteksi kondisi bagian dalam batang pohon, termasuk mengetahui apakah
pohon mengalami pelapukan atau berlubang, sekaligus menampilkan persentase tingkat risikonya.
“Kita enggak bisa kalau dilihat dari visual saja, kita harus lihat dalamnya. Alat Arbosonic ini yang bisa menunjukkan kondisi pohonnya berlubang atau enggak, terus tingkat risiko
secara persentase itu berapa,” kata Egga.
Bunyi Nyaring Saat Diketuk Belum Tentu Tanda Pohon Berlubang
Egga turut meluruskan anggapan umum yang menyebut pohon berbunyi nyaring saat diketuk pasti mengalami pembusukan di bagian dalam. Ia mencontohkan pohon angsana yang kerap terdengar seperti berongga saat diketuk, padahal hasil
pemeriksaan Arbosonic medeteksi menunjukkan kondisinya tetap sehat.
“Memang karakteristik pohon angsana itu galih atau daging kayunya lunak, jadi bunyinya nyaring saat diketuk. Beda dengan pohon mahoni yang keras. Tapi keras pun
enggak menentukan pohonnya sehat,” ujarnya.
Egga menambahkan, penentuan tingkat kesehatan pohon tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan satu indikator saja, melainkan harus melalui kombinasi pemeriksaan visual, scoring, dan pengujian alat khusus agar hasilnya akurat.
Author: Vinka Rofa Rosila













