Petani Tolak Dirikan Pabrik Semen di Kendeng, Apa Alasanya?

""

PortalArjuna.net – beberapa waktu yang lalu para petani dari desa Kendang,Rembang melakukan aksi menyemen kaki mereka di depan Istana Merdeka. Hal ini dilakukan dalam rangka penolakan oprasional perusahaan semen di daerah Rembang.

Sebenarnya hal ini bukan pertama kali terjadi beberapa waktu lalu para petani melakukan hal serupa untuk menyalurkan penolakan mereka.

Dilaksir dari liputan6.com dengan judul berita “Perlawanan Satu Dekade Petani Kendeng” kegiatan tersebut sudah dilakukan lebih dari satu dekade tepatnya hal tersebut dilakukan pada tahun 2006. Alasan kenapa para petani menolak adanya perusahaan semen di daerah kendang adalah kekhawatiran akan kelangkahan pasokan air yang berujung rusaknya ladang mereka.

Hal ini dimulai dimana pada tahun 2006 PT.Semen Gresik mencoba membangun perusahaan semen di daerah Pati, akan tetapi hal itu mendapat tanggapan negatif dari warga dan mengajukan gugatan. Kemudian pada tahun 2009 pemkab Pati mengubah 3 kawasan pertanian menjadi kawasan Industri dan pertambangan.lalu pada tahun 2012 PT. Sahabat  Mulia Sakti lakukan uji Amdal untuk pabrik di Pati dan pada tahun 2014 warga Pati dan Rembang menggugat ke PTUN Semarang yang pada akhirnya pada tahun 2015 PTUN membatalkan izin Pabrik di Pati serta pada tahun 2016 PT Semen Indonesia kalah dan PT SMS dimenangkan oleh pengadilan.di tahun 2017 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menerbitkan izin lingkungan kepada PT Semen Indonesia. Akhirnya warga desa Kendeng menolak dan melakukan aksi menyemen kaki mereka.

Pegunungan Kendeng memang memiliki pesona yang cukup indah selain beberapa gua yang ada disekitar daerah tersebut, banyaknya pohon jati dan satwa lokal daerah tersebut juga merupakan beberapa hal yang membuat masyarakat menolak adanya kegiatan pembangunan perusahaan semen di daerah tersebut,selain itu masyarakat juga mengandalkan air dari gua – gua tersebut untuk kebutuhan bertani serta mandi dan mencuci.

Dengan adanya perijinan mengenai pembuatan perusahaan semen di daerah tersebut tentunya akan merusak mata pencaharian masyarakat sekitar yang sudah lama bertani, semoga ada tindakan tegas oleh pemerintah mengenai hal tersebut.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.