Jajawi dan Legenda Putri Jawi

""

portalarjuna.net – Jajawi atau biasa kita sebut Candi Jawi adalah nama sebuah candi yang terletak di desa Candi Wates, kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Candi ini terletak di pinggir jalan raya menuju Tretes dan Trawas sehingga akan dapat ditemukan dengan mudah.

 

Candi Jawi dibangun bukanlah sebagai candi pemujaan, namun sebuah candi tempat abu jenazah Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Menurut kitab Negarakertagama, pada candrasengkala atau tahun Api Memanah Hari (1253 C/ 1331 M) candi ini pernah rusak tersambar petir. Candi ini sendiri pernah mengalami pemugaran sebanyak tiga kali dan pada tahun 1982 Candi Jawi diresmikan sebagai bangunan cagar budaya sekaligus objek wisata sejarah oleh pemerintah.

 

Candi Jawi memiliki luas sekitar 40×60 meter2 yang dikelilingi oleh pagar bata setinggi dua meter. Bangunan candi dikelillingi oleh parit yang dihiasi oleh bunga teratai. Candinya sendiri berukuran panjang 14,24 meter dan lebar 9,55 meter dengan tinggi 24,50 meter. Di depan tangga naik candi terdapat sisa bangunan empat persegi panjang yang biasa disebut Candi Kelir.

 

Seperti candi pada umunya, Candi ini terdiri dari tiga bagian, yaitu: kaki, badan dan atap. Candi Jawi berbentuk tinggi ramping seperti Candi Prambanan dengan atap yang merupakan perpaduan stupa dan kubus bersusun yang meruncing pada ujungnya. Pada bagian kaki candi terdapat relief yang menggambarkan seorang wanita dan punakawan (pengiring), bangunan rumah maupun candi, dan panorama beraneka pepohonan. Menurut Bapak Sholihin selaku juru kunci, Gapura Bentar yang berada di belakang candi dengan mengahadap ke barat bermakna raja terdahulu, sedang candi yang menghadap ke timur bermakna raja pengganti yang senantiasa menghadap ke barat. Yang dapat diartikan bahwa raja yang berkuasa sekarang harus belajar dari pengalaman raja yang terdahulu agar dapat lebih memajukan kerajaan.

 

Menurut Negarakertagama juga, pada bagian dalam candi terdapat bilik-bilik tempat arca Siwa, Nandiswara, Durga, Ganesha, Nandi, dan Brahma. Saat ini arca-arca terlah disimpan di dua museum. Arca Durga disimpan di Museum Mpu Tantular, Surabaya, sedangkan arca yang lainnya, kecuali arca Brahma disimpan di Museum Trowulan. Arca Brahma tidak disimpan karena sudah tidak ditemukan atau dapat dikatakan telah hilang.

 

Dibalik keindahannya, Candi Jawi juga menyimpan sebuah cerita. Cerita tersebut tentang seorang putri cantik bernama Putri Jawi. Alkisah, Putri Jawi adalah seorang putri yang cantik jelita dan berbakti kepada orangtua. Putri Jawi diutus ayahnya pergi ke Pasuruan untuk menemui calon suami yang dijodohkan dengannya. Putri Jawi pergi dengan seorang Punggawa kerajaan yaitu Kebo Suwayuwo. Selama perjalanan Kebo Suwayuwo mulai jatuh hati kepada sang Putri. Namun, sang Putri menolak dan tetap memegang teguh titah ayahandanya. Tetapi Kebo suwayuwo tidak putus asa. Dia mengikuti kemanapun sang Putri pergi dan membunuh siapapun yang menghalanginya. Singkat cerita, karena telah banyak pertumpahan darah dan Kebo Suwayuwo belum dapat dikalahkan, Putri Jawi membuat rencana. Sang Putri mau menikah dengan Kebo Suwayuwo asalkan dicarikan air yang bening sebagai syarat, sesuai wasiat Ki Ageng Pandak sebelum meninggal dibunuh Kebo Suwayuwo. Kebo Suwayuwo yang mendengar hal itu bergegas membuat sebuah sumur. Ketika tanah yang digali Kebo Suwayuwo telah dalam, pasukan Majapahit langsung menguburnya di dalam galian tersebut. Tempat terkuburnya Kebo Suwayuwo diberi nama desa Suwayuwo (Suwayuwo, Sukorejo) oleh Putri Jawi. (SylV)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.