Candi Jawi, Wisata Budaya yang Terlupakan oleh Penduduk Sendiri

""

Portalarjuna.net – Prigen, Selasa (16/01/2018) Berbicara mengenai wisata sejarah dan religi, Kabupaten Pasuruan tak hanya memiliki Masjid Cheng Ho Pandaan. Tak jauh dari sana menuju arah Tretes tepatnya di desa Candiwates, Kecamatan Prigen akan terlihat sebuah candi yang dikenal dengan nama Candi Jawi.

Candi yang bernama “Jajawa” atau “Jawa-Jawa” dalam kitab Negarakertagama ini terletak di kaki gunung Welirang. Candi ini didirikan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari pada akhir abad XIII. Ada dua versi kegunaan candi ini, yaitu sebagai tempat abu Raja Kertanegara dan tempat pendharmaan (sembahyang). Terdapat tiga bangunan dalam kompleks candi Jawi, pertama di bagian belakang yang merupakan perpaduan bata merah dan andesit bernama Candi Bentar sebagai gapura pintu masuk, di bagian depan sebagai bangunan pondasi bernama Candi Perwara dan bangunan utama Candi Induk. Candi Jawi berukuranpanjang 14,24 meter, lebar 9,55 meter dan tinggi 24,50 meter.Di dalam candi terdapat batu yoni dan harusnya juga terdapat batu lingga sebagai pasangannya, tetapi lingga tersebut hilang saat candi mengalami keruntuhan akibat tersambar petir pada tahun 1331. Oleh karenanyacandi telah mengalami dua kali pemugaran yaitu pada tahun 1938-1941 dan tahun 1975-1980an. Bangunan candi sudah tidak seluruhnya asli, karena pada saat runtuh banyak batuan yang hilang sehingga 20%nya telah digantikan oleh batu tiruan berwarna putih dengan besi menempel di permukaannya.

Mpu Prapanca dalam bukunya Negarakertagama menerangkan bahwa Candi Jawi memiliki dua sifat keagamaan yaitu bagian bawah bersifat Siwa dan bagian atas bersifat Budha. Candi ini masih dipakai sebagai tempat sembahyang umat Hindu-Budha dengan waktu yang tidak menentu. Tidak hanya orang beragama Hindu dan Budha, orang Kejawen biasanya juga datang setiap malam Jum’at dengan membawa sesaji untuk menghormati leluhur mereka.

Wisatawan yang datang kebanyakan dari luar kota baik turis lokal maupun turis asing. Karena lokasinya yang strategis di jalur menuju kawasan Tretes, sehingga setiap hari selalu ada pengunjung meskipun tidak ramai dan apabila hari libur wisatawan yang datang bisa mencapai 300 orang. Wisatawan asli Pasuruan sendiri lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mengunjungi berbagai objek wisata di kota lainnya seperti Malang dan Batu.

Lantas mengapa Candi Jawi dengan segala keunikan dan sejarahnya kurang terekspos di daerah sendiri? Tim Portal Arjuna  berhasil menemui Aan selaku penjaga candi sejak tahun 2006 untuk mengetahui penyebab kurangnya minat dari wisatawan lokal Pasuruan terhadap kompleks wisata Candi Jawi.

Mungkin kurang promosinya, “ ujar lelaki ini.

Menurutnya, Pemkab Pasuruan kurang mempromosikan dan menggali potensi yang ada di kompleks wisata ini, justru lebih menggali Candi Sumber Tetek. Candi Jawi memiliki potensi besar untuk bisa dikembangkan karena asal-usul candi yang sudah jelas tertulis di kitab Negarakertagama serta akses yang mudah karena terletak di pinggir jalan raya.

Aan berkata dahulu pernah setiap malam bulan purnama diadakan kegiatan dari Dinas Pariwisata berupa penampilan seni tari dari setiap sanggar tari di seluruh Pasuruan. Seluruh sanggar bergantian untuk tampil dalam kegiatan setiap tanggal 15 Jawa saat Padang Bulan. Penonton pertunjukan didudukkan bersama dan dipukul rata, tidak melihat jabatan ataupun status sosial semua disetarakan. Tetapi kegiatan tersebut dihentikan pada tahun 2014 tanpa pemberitahuan lebih lanjut mengenai alasannya.

Seharusnya Pemerintah Kabupaten Pasuruan dapat lebih mengembangkan potensi Candi Jawi, mengingat banyaknya acara yang diadakan Pemkab Pasuruan maupun Pemprov Jawa Timur di Taman Candra Wilwatikta yang berada tak jauh dari kompleks wisata ini.

Mungkin bisa dimampirkan kesini dulu sehabis acara di Candra,” imbuhnya. (Vir, Zee)

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.