Penjual Jamu Gendong Antarkan Putera Puteri Hingga Jenjang Perguruan Tinggi

""

portalarjuna.net-Ibu Samsinah, Seorang wanita lanjut usia (lansia) asal Solo Jawa Tengah yang berprofesi sebagai tukang jamu keliling, berhasil mengantarkan kedua putera puterinya mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi. Dengan penghasilan yang terhitung minim yakni tidak lebih dari 40-50 ribu perhari, beliau dapat mewujudkan impian anak anaknya untuk berpendidikan tinggi. Setiap harinya ibu Samsinah tinggal bersama adik beliau yang juga mempunyai pekerjaan yang sama di Desa Sengonagung Purwosari Pasuruan, sedangkan anak dan suaminya tetap tinggal di Solo.

Ibu lima anak yang berusia 57 tahun tersebut mengandalkan hasil berjualan jamu keliling untuk mencukupi kebutuhan sehari hari. Jamu yang dijual dibuat bersama adik yang tinggal bersama beliau. Hal tersebut membuat beliau bersyukur karena jamu yang beliau jual dapat diproduksi sendiri sehingga tidak memerlukan banyak biaya untuk modal berjualan. Beliau telah berjualan jamu keliling dari tahun 1977  dan terhitung sudah 40 tahun berjalan, memang waktu yang tidak tergolong singkat.

Suami ibu Samsinah bekerja sebagai petani di kampung halamannya sementara beliau merantau sebagai penjual jamu di kota orang. Ibu Samsinah memiliki lima orang anak, tiga diantaranya sudah berkeluarga sedangkan dua lainnya belum berkeluarga “ kulo gadah yugo gangsal, seng tigo mpun gadah pasangan, seng kaleh dereng. Enten seng kerja, stunggalipun tasik kuliah ten UNES” (saya punya lima anak. Yang tiga sudah punya pasangan, yang dua belum. Ada yang kerja, yang satunya masih kuliah di UNES. Jelas Ibu Samsinah

Putra keempatnya Endrianto adalah seorang sarjana Psikologi di Universitas Brawijaya, dan putri bungsunya Yulianti adalah mahasiswa semester 3 Universitas Negeri Semarang (UNES) yang mengambil jurusan sastra inggris. “Yugo kulo seng jaler namine Endrianto sakniki sampun lulus jurusan sastra inggris ten Brawajiya mriko, seng estri Yulianti sakniki kuliah ten UNES semester tigo” (anak saya yan laki-laki namanya Endrianto sekarang sudah lulus jurusan sastra Inggris di brawijaya sana, yang perempuan Yulianti sekarang kuliah di UNES semester 3) tambah beliau.

Endrianto dan Yulianti selalu mencari peluang beasiswa selama proses pendidikannya di perguruan tinggi sebagai penunjang biaya kuliah yang tidak sedikit apalagi dengan nama kampus yang mentereng “ seng jaler niku kuliah ndamel beasiswa dugi kampus, mboten nate nedi arto ten kulo, Yulianti geh mandiri tapi namine lare estri geh kebutuhane katah. Kadang dibantu kaleh kakake” (yang laki-laki itu kuliah pakai beasiswa dari kampus, tidak pernah minta uang ke saya, Yulianti juga mandiri tapi namanya anak perempuan kebutuhannya ya lebih banyak kadang dibantu sama kakaknya) tambah Ibu Samsinah.

Ibu samsinah mengaku bangga dengan kemandirian dan usaha putera puterinya dalam mencapai impian mereka. Pada saat wisuda putera keempatnya Endrianto pada tahun 2016 di Universitas Brawijaya Malang beliau merasa terharu hingga meneteskan air matanya karena merasa bangga sekaligus terkesan dengan kampus sang putera.” Tahun kolo wingi yugo kulo seng jaler niku wisuda ten brawijaya, kulo sampek nangis mbak, mboten ngiro lek kampuse ageng, megah, wali mahasiswane katah seng nitih montor”(tahun kemarin anak saya yang laki-laki itu wisuda di brawijaya, saya sampai nangis mbak. Gak nyangka kalau kampusnya besar, megah terus wali mahasiswanya banyak yang naik mobil) pungkas beliau. (Nic)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.