Tiwul, Makanan Era Krisis Menjelma Menjadi Jajanan Masa Kini

""

Portalarjuna.net- Nama Tiwul identik dengan kemiskinan dan kelaparan. Tapi jajanan tradisional berbahan singkong ini masih digemari oleh banyak orang.

Tiwul sebenarnya merupakan makanan pokok masyarakat pada masa lalu. Tiwul yang terbuat dari singkong ini dijadikan pengganti nasi ketika harga beras mulai mahal. Hal ini terjadi pada tahun 1960-an. Pada masa lalu, tiwul dimakan selayaknya nasi yang ditemani oleh lauk pauk serta sayuran.

Namun saat ini, tiwul dikenal sebagai jajanan pasar yang sangat merakyat. Tiwul cukup mudah ditemui dibanyak daerah seperti di Desa Bergentong Wonorejo. Biasanya, tiwul dijajakan di pasar tradisional sejak subuh hingga menjelang siang hari.

Pengolahan tiwulpun juga sangat mudah. Singkong dikupas, lalu dibersihkan kemudian dijemur hingga kering. Singkong kering ini biasanya disebut dengan Gaplek. Gaplek ditumbuk hingga halus, kemudian dikukus hingga matang. Hasil kukusan inilah yang disebut dengan tiwul.

Kini penyajian tiwul banyak variasinya, ada yang disandingkan dengan parutan kelapa dan siraman gula merah. Bahkan tiwul juga ditambahkan dengan bahan pelengkap seperti ketan hitam dan jagung rebus pipilan.

Menurut salah satu penjual tiwul mengatakan bahwa dengan memperbanyak variasi penyajian tiwul dan menambahkan bahan pelengkap seperti ketan hitam dan jagung rebus pipilan. Maka banyak masyarakat mulai dari kalangan tua sampai muda menggemari makanan ndeso satu ini.

Biasanya tiwul dijual mulai dari harga RP. 3000 perbungkusnya. Harga yang cukup murah untuk jajanan manis satu ini.

“Saya setiap hari selalu membeli tiwul. Selain harganya murah dan enak, tiwul juga sangat cocok untuk dimakan dipagi hari sebagai pengganjal perut,” Ujar Kasiyah salah seorang pembeli tiwul. (El)

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.