Maraknya “Gerakan Ayo Nembel!” Setiap Menjelang Ujian Madrasah Diniyah

""

Portalarjuna.net – Purwosari (29/03/2018). Jika mendengar kata santri, pasti tak asing dengan yang namanya ngaji, terutama mengaji kitab. Semua pondok pesantren pasti memiliki agenda pengajian kitab, seperti di Pondok Pesantren Ngalah misalnya. Ponpes yang diasuh oleh KH. M. Sholeh Bahrudin ini memiliki banyak kegiatan mengaji, diantaranya adalah  ngaji Tafsir, ngaji Al-Qur’an dan mengaji kitab-kitab lainnya. Tetapi ada salah satu kegiatan yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan para santri ketika menjelang ujian madin, yakni nembel kitab atau maknai kitab yang kosong.

Kegiatan yang sudah menjadi rutinitas turun-temurun ini dilakukan karena jika hendak mengikuti ujian madin, para santri wajib menstempel kitab-kitabnya sebagai persyaratan ujian. Apabila ada kitabnya yang ternyata kosong, maka ia tidak akan mendapat stempel dan santripun tidak diperkenankan mengikuti ujian.

“Gerakan Ayo Nembel!” yang secara tidak langsung telah menjadi budaya santri pondok ini harusnya dapat dihilangkan karena tidak efektif bagi santri itu sendiri. Menurut Ririn salah satu santriwati asrama H Pondok Pesantren Ngalah, adanya kitab kosong disebabkan karena santri sering tidur ataupun pulang saat waktu mengaji. “Kitab santri yang kosong dikarenakan santri itu sering tidur saat ustadz membacakan kitab, maka dari itu kitabnya kosong, ada juga yang karena santri tersebut sering pulang, sehingga sering tidak mengikuti kegiatan mengaji,” paparnya.

Tetapi pendapat lain datang dari Rida, salah satu santriwati asrama L pondok Pesantren Ngalah. Ia memaparkan bahwa seandainya santri dapat membagi dan memanfaatkan waktunya dengan baik maka santri tersebut tidak akan ketetran. “Jika santri dapat membagi waktunya dan memafaatkan waktunya dengan baik, maka santri tersebut tidak akan keteteran untuk nembel kitab saat menjelang ujian madin,” ujar gadis berkerudung ini.

Jadi “Gerakan Ayo Nembel!” dapat diminimalisir jika santri dapat membagi waktu dan memanfaatkannya dengan baik untuk maknai kitab yang kosong, bukan malah kabur dari pengajian yang mereka ikuti agar santri tidak keteteran di saat akan ujian dan dapat lebih fokus pada ujian yang akan dihadapi. (Cus)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.