Pelajar Itu Berperan, Bukan Baperan

""

PortalArjuna.net-Pasuruan, Pelajar dalam konteks ini saya mengartikan mereka yang terpelajar untuk menjadi lebih baik, entah formal maupun non formal, sehingga bisa diartikan pemuda, mahasiswa bahkan santri pun masih bisa disebut pelajar.

Berangkat dari sejarah pelajar sejak dulu gerakannya sudah menjadi perhitungan. Pada zaman Kolonial para pelajar banyak membuat gerakan-gerakan Manuver untuk melawan penjajahan, terbukti gerakan Budi Utomo yang pada saat itu mempunyai misi melawan penjajahan dapat memberikan pecut semangat berdirinya organisasi-organisasi keterpelajaran, di Jakarta berdiri Tri Koro Dharmo yang anggotanya adalah pelajar menengah dari Jawa dan Madura. Kemudian pada kongres di Solo berubah menjadi Jong Java. Begitupun di daerah lain ada Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Celebes dan lain sebagainya. Tidak hanya itu kita juga mengingat bagaimana golongan pemuda menculik Soekarno pada tahun 1945, Bung Karno dan Bung Hatta diculik ke Rengasdengklok salah satu upaya pemuda memaksa golongan tua untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hingga pada orde baru rezim yang begitu otoriter runtuh dengan gerakan mahasiswa pada tahun 1998.

Artinya sejarah bangsa Indonesia ini tidak lepas dengan campur tangan pelajar hingga saat ini, gerakan-gerakan yang begitu heroik telah kita dengarkan. Lantas pertanyaannya kita sebagai pelajar hari ini sudah melakukan apa? Sudah berbuat apa?

Ngomongin soal pelajar hari ini memang tidak ada habisnya, bahkan dengan adanya revolusi industri 4.0 ini juga pelajar harus menjadi garda terdepan, hingga bisa menjadikan Indonesia emas beneran pada tahun 2030. Kalau dulu diawal kuliah kita dikenalkan dengan agen of change atau agen perubahan digadang-gadangkan pelajar bisa menjadi kelompok perubahan bagi bangsa, entah ekonomi, politik maupun yang lainnya, artinya pemuda atau pelajar menjadi tumpuhan harapan bangsa kedepan.

Cuma sayangnya pelajar hari ini lebih sering baperan ketimbang berperan, lebih sering ngurusi diri sendiri ketimbang bermanfaat buat orang lain, bahkan gara-gara beda pilihan saja baperan luar biasa.

Misalnya beda pilihan ketua osis bisa-bisa sesama teman tidak saling menyapa, atau tidak di masukan dalam kepengurusan OSIS bapernya sampai satu kampung yang kena, nah sifat-sifat seperti ini harusnya dibuang sebagai pelajar. Kita harus lebih banyak memikirkan inovasi untuk kemajuan bangsa ketimbang saling sikut tidak berguna, kita seharusnya lebih solutif dalam bertindak ketimbang mementingkan ego kelompok karena kepentingan bangsa dan negara lebih penting ketimbang yang lainnya.

Peran kita hari ini seharusnya lebih dilihatkan, misalnya dalam dunia teknologi kita harus bisa membuat satu gagasan teknologi yang bisa menjawab persoalan masyarakat pinggiran, petani nelayan dll, atau dalam dunia ekonomi kita harus bisa menjadi garda terdepan dalam pengembangan ekonomi bangsa dengan membentuk UMKM berbasis pelajar, atau enterpreneur muda harus bisa dicetak sebanyak-banyaknya.

Jangan sampai kita baperan, atau terbawa ke hal negatif misalnya penyalagunaan narkoba. Mari kita berbuat hal yang positif dengan mengedepankan kepentingan bersama dan kepentingan bangsa Indonesia, karena 10 tahun kedepan Indonesia ditangan pemuda hari ini. Salam pelajar. (Nur Ali Farchan)

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.