Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 20 Juli 2024

Mengenang Tjipto Mangoenkoesoemo Pahlawan Revolusi Kemerdekaan yang Gugur pada 8 Maret 1943

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

PortalArjuna.Net-Pasuruan, Tepat hari ini 79 tahun yang lalu yaitu 8 Maret 1943 salah satu pahlawan revolusi Indonesia, Tjipto Mangoenkoesoemo meninggal dunia di Batavia.

Kepergiannya tentu membawa duka yang mendalam bagi bumiputra, beliau merupakan tokoh pergerakan nasional yang tak takut melawan Belanda malalui mimbar politik. Baginya tiada tempat bagi kolonialisme berada di Negrinya.

Tjipto Mangoenkoesoemo dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Beliau juga diabadikan di pecahan uang logam rupiah atas jasa-jasanya pada 19 Desember 2016. Dan patung besar megah Tjipto Mangoenkoesoemo yang di resmikan pada 3 maret 2018.

Perjalanan Hidup Tjipto Mangoenkoesoemo

Tjipto Mangoenkoesoemo lahir pada 4 Maret 1886, di Kecamatan Pecangan, Jepara, Jawa Tengah. Beliau merupakupakan putra tertua dari Mangunkusumo.

Mangunkusumo merupakan seorang priyayi rendahan dalam struktur masyarakat Jawa, yang mengawali karir menjadi guru bahasa Melayu di sebuah sekolah dasar di Ambarawa.

Selain menjadi tokoh pergerakan nasional dan pejuang kemerdekan Tjipto Mangoenkoeseoemo merupakan lulusan dokter di STOVIA.

Beliau sempat turut andil dalam pembentukan Boedi Oetomo (BO) pada 1908, organisasi kebangsaan pertama di Indonesia.

Namun, beliau tidak bertahan lama di organisasi tersebut karena berselisih paham dengan Radjiman Wedyodiningrat. Tjipto menginginkan agar BO menjadi organisasi terbuka dan lebih demokratis, sedangkan Radjiman tetap menginginkan BO sebagai gerakan murni priyayi Jawa.

Setelah keluarnya Tjipto Mangeonkoeseomo dari BO beliau kemudian membuka pratek dokter di Solo. Beliau turut andil dalam pemberantasan wabah di Malang pada tahun 1991.

Berkat jasanya Dokter Tjipto mendapat penghargaan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda yakni sebuah bintang emas. Tapi beliau menolak pengahrgaan tersebut karena tidak sudi menerima penghargaan dari penjajah.

Ia kembali ke kancah pergerakan pada tahun 1912 dan mendeklarasikan Indische Partij (IP). IP adalah organisasi terbuka yang menyerukan tujuan kemerdekaan.
Beliau mendeklarasikan IP dengan dua sahabatnya yakni Ernest Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara). Yang kemudian dikenal dengan tiga serangkai.

Pengasingan Tjipto Mangeonkoesoemo

Tjipto berkali-kali merasakan pengasingan dan menjalani hidup sebagai orang buangan. Namun, dalam perjuangan sebagai orang buangan merupakan status yang membanggakan.

Pada 8 Agustus 1913, pengadilan kolonial memutuskan bahwa Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda dengan dakwaan menentang pemerintahan yang sah.
Namun, baru satu tahun di asingkan Tjipto dipulangkan dengan alasan kesehatan.

Setibanya di tanah air beliau membangkitkan IP dengan nama baru Insulinde pada 22 Agustus 1912.

Tjipto dinggap sebagai pribumi yang sangat berpengaruh sehingga membuat kolonial lebih berhati-hati dalam menghadapinya.
Pada 18 Mei 1918 dibentuk Dewan Rakyat (Volksraad), Tjipto diminta nergabung dalam Dewan Rakyat tersebut oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda. Kendati menjadi anggota dewan, Tjipto terus mengkritisi pemerintah termasuk Volksraad sendiri.

Tjipto tetap konsisten pada tujuan perjuangan yang dulu di usung IP yang dilanjutkan oleh Insulinde yang kemudian berganti nama menjadi Nationaal Indische Partai-Sarekat Hindia (NIP-SH).

Pada tahun 1926 Tjipto Mangeonkoesoemo terkena imbas Partai Komunis Indonesia (PKI), karena sifatnya yang keras dan radikal ia dinggap membantu pergerakan PKI sehingga ditangkap dan dipenjara.
Pada 19 Desember 1927, Pemerintah memutuskan Tjipto dibuang ke Banda, Kepulauan Maluku. Dari Banda ia dipindahkan ke Bali, kemudian ke Makassar, lalu diungsikan ke Sukabumi, Jawa barat.
Seringnya berpindah-pindah membuat kesehatan Tjipto kian memburuk sehingga membuatnya gugur sebelum merasakan merdeka.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Related News

Tulisan Terakhir

Advertorial