
PortalArjuna.net – Pada era saat ini, kata Revolusi Mental sudah tidak asing lagi didengar oleh kalangan mahasiswa. Namun, sebagaian dari mahasiswa belum sepenuhnya mengerti, apakah Revolusi Mental ini penting bagi Mahasiswa atau tidak.
Revolusi Mental dapat diartikan sebagai gerakan untuk mengubah cara pikir, cara kerja, dan cara hidup bangsa Indonesia yang mengacu pada nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong berdasarkan Pancasila yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan.
Dalam kesempatan Pekan Sosialisasi dan Orientasi Perguruan Tinggi (PASOPATI) Universitas Yudharta Pasuruan, pihak panitia pelaksana kegiatan mendatangkan Bapak Multazamudz Dzikri, M.Pd. selaku Tenaga Ahli Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, untuk menjadi pemateri dengan topik Revolusi Mental.
Bapak Azam sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa generasi muda atau mahasiswa saat ini sedang terjajah oleh hiburan dan game. Hal ini sangat berbeda dengan mahasiswa dulu, mereka mampu memanfaat waktu berkumpul dengan teman di warung kopi untuk menciptakan sebuah forum diskusi. Dimana dari forum diskusi tersebut terbangunlah sebuah forum ilmiah.
“Nah, hari ini generasi muda atau mahasiswa ngumpul di warung kopi HP nya miring semua, artinya mereka sudah sibuk dengan PUGB, Mobile Legend, dan lain sebagainya. Dan saya menjadi bagian dari orang yang menolak hal itu. Bahkan tidak pernah saya menginstall game-game itu di HP saya, karena bagi saya itu bentuk penjajahan,” tutur beliau, pada Senin (05/09/22).
Bentuk penjajahan melalui game tersebut, membuat para mahasiswa lupa akan kewajiban mereka untuk belajar, karena mereka menggunakan sebagian waktunya hanya untuk bermain game. Selain itu, game juga mampu berdampak pada melemahnya kehidupan sosial dari mahasiswa itu sendiri.
Dari contoh tersebut, Bapak Azam mengatakan bahwa hadirnya Revolusi Mental sangat penting untuk ditanamkan kepada mahasiswa, karena mahasiswa harus memiliki mental sebagai pemenang.
Untuk memiliki mental pemenang, mahasiswa tidak boleh hanya mengikuti arus kemajuan zaman saja, tetapi mahasiswa dituntut peka terhadap sosial dengan cara merubah hal-hal yang dianggap memberikan dampak negatif, seperti halnya contoh yang telah disebutkan diatas.
Dengan adanya Revolusi Mental, nantinya mahasiswa juga dapat aktif mencari referensi-referensi untuk menggali potensi lain dalam dirinya. Hal ini bertujuan agar mahasiswa memiliki kompetensi lain diluar kelas perkuliahan.
“kalau kita tidak aktif, tidak membiasakan diri untuk memperkaya referensi dan kepekaan sosial, ya kita akan tertinggal,” ujar beliau.
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa Revolusi Mental sangat penting bagi mahasiswa. Karena dengan adanya Revolusi Mental, maka akan terbentuk mahasiswa yang memiliki mental menjadi pemenang, mahasiswa yang mampu peka terhadap sosial, serta mahasiswa yang mampu memiliki potensi lain diluar kelas perkuliahan.
(AN)









