Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 9 Mei 2026

Syaikh Muhammad Syadzi Mustofa Arbash Jelaskan Seputar Turots dan Tahqiq dalam Launching Turots Center Universitas Yudharta

Portalarjuna.net, Pasuruan – Menjelang dilaksanakannya Diesnatalis Universitas Yudharta Pasuruan yang ke 21, beberapa rangkaian acara mulai di gelar. Peringatan Pasca Satu Abad Nahdlotul Ulama’ menjadi salah satu dari serangkaian kegiatan tersebut. Dilaksanakan selama dua hari di Aula pancasila Universitas Yudharta Pasuruan, pada hari pertama, Sabtu (13/5/23) terdapat Launching Turots Center Universitas Yudharta dan juga Lokakarya dengan tema “Nilai-Nilai Religius Pluralistik dalam Turats Nusantara”. Acara Ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa setiap prodi baik S1 maupun S2, para dosen, dan perwakilan kepala lembaga Yayasan Darut Taqwa.

Salah satu narasumber pada lokakarya tersebut adalah Syaikh Muhammad Syadzi Mustofa Arbash dari Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STIA) Imam Syafi’i Cianjur. Beliau berkebangsaan Suriyah dan telah berkecimpung dalam dunia tahqiq editing penerbitan kitab dan mencari manuskrip selama 23 tahun. Sebelum mengulas lebih dalam mengenai tahqiq, beliau menyampaikan rasa terimakasih kepada semua orang yang telah berperan penting dalam terwujudnya acara ini terutama launchingnya markas tahqiq senter turots islam di Universitas Yudharta.

Syaikh Syadzi juga mengungkapkan bahwa Markas Turots inilah yang didambakan oleh para ulama’ terdahulu karena mereka berharap bahwa generasi setelah mereka senantiasa melestarikan karya mereka dan mengembangkan pemikiran mereka.

“Adanya launching ini juga dapat menggugah hati para pencari ilmu yang mencintai turots atau wariisan Rosulullah SAW,” ungkap penerjemah bahasa Syaikh Syadzi.

Sesuai dengan pengalam beliau dalam bidang tahqiq, dalam lokakarya ini beliau menjelaskan dengan detail bagaimana dunia penelitian manuskrip, pentingnya, manfaatnya dan seberapa butuhan umat terhadpa tahqiq ini.

Manuskrip, yang dalam bahasa arab disebut makhtut, berasal dari kata khot, Memiliki arti tulisan tangan. Ilmu para ulama’ terdahulu ratusan tahun yang lalu sampai pada kita saat ini melalui tulisan tangan. Kemudain para orang-orang yang menyibukkan diri dalam tulisan manuskrip (Muhaqqiq) menyalin ulang tulisan mereka untuk di cetak dan disebar luaskan. Kegiatan tersebutlah yang dinamakan tahqiq.

“Namun sayangnya saat ini, banyak dijumpai para penuntut ilmu yang kurang memahami dunia tahqiq, mereka banyak tidak mengenal dasar dan pedoman dalam tahqiq,” ungkap Syaikh Syadzi merasa miris.
Tidak hanya menjelaskan mengenai tahqiq, Syaikh Syadzi juga menceritakan bagaimana upaya percetakan 400 tahun yang lalu,

“Zaman dahulu jika ingin beli kitab, pergi ke pasar. Disana banyak jasa salin kitab. Jadi kalau ingin punya salinan kitab harus ditulis tangan dulu oleh si penyalin dan membutuhkan waktu yang lama,’’ cerita beliau.
Fase setelahnya kitab buku sudah bisa dicetak dengan mudah. Upaya percetakan pertama berada di Khalam, Alepo, Suriah. Namun sayangnya buku pertama yang dicetak di Suriyah adalah Injil, dan itu disalah gunakan oleh para Nasrani yang tidak bertanggung jawab, menyebarkan Injil dalam Bahasa Arab. Namun bisa ditepis oleh Aqidah kuat yang dimiliki oleh para ulama’.

“Barulah setelah itu kaum muslim sudah memiliki banyak pengetahuan, belajar, dan dapat menerbitkan kitab-kitab hingga saat ini,” jelas Syaikh Syadzi

Sesuai dengan tema acara, Syaikh Syadzi juga menceritakan mengenai bagaimana islam berkembang di Suriyah lewat Dinasti Umayyah dengan damai tanpa ada paksaan. Beliau juga menceritakan bagaimana Damaskus pada masa kini yang terdapat banyak Masjid dan Gereja terletak berdampingan. Sama seperti Indonesia yang sangat toleran dan merupakan tempat berkumpulnya keanekaragaman.

“Karena Aswaja dan islam mengajarkan kalau kita tidak berhak memaksa siapapun. Yang berhak adalah mengucapkan kalimat toyyibah dan diskusi yang baik,” tambahnya.

Sebelum penutup, Syaikh Syadzi memberikan pemahamn kepada audiens bahwa Tahqiq bukanlah penyelewengan isi dari kitab. Tahqiq butuh mengumpulkan banyak manuskrip untuk dijadikan perbandingan baik dari manuskrip keluarga atau murid. Muhaqqiq juga harus jeli membandingkan satu manuskrip dengan manuskrip lain agar kitab yang dicetak sesuai harapan penulis.

Akhir kata, beliau mendoakan kebaikan untuk kita semua khususnya untuk Turots Center yang sedang launching saat ini
“Semoga menjadi pusat atau menara ilmu di dunia maupun akhirat,” Pungkasnya.

Author : Angely Rahma

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial