Pasuruan, Jawa Timur
Selasa, 18 Juni 2024

Kaitkan Dengan Feminisme Dan Budaya Ketimuran, TIM PKM-RSH Yudharta Kaji Kontroversi Mindset Childfree Di Sosial Media

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Portalarjuna.Net, Pasuruan- Lima mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam satu tim PKM – Riset Sosial Humaniora Universitas Yudharta Pasuruan, berhasil melakukan penelitian tentang kontroversi pola pikir childfree di sosial media dengan judul “Analisis Kontroversi Mindset Childfree Di Social Media Dalam Relasinya Dengan Feminisme Dan Ancaman Budaya Ketimuran (Tinjauan Wacana Krtitis Sara Mills)”.

Dalam beberapa dekade terakhir, pilihan childfree menjadi konflik hangat setelah seorang influencer “Gita Savitri Devi”, membuat pernyataan kontroversial tentang childfree di media sosial yang memicu perdebatan pro-kontra tentang peran perempuan, kebebasan berpilihan, serta konflik dengan nilai-nilai budaya timur.

Melalui pengumpulan data menggunakan jejak digital berupa postingan dan komentar balasan di sosial media instagram, tiktok, dan youtube, serta pemberitaan di media massa online mengenai pola pikir childfree. Telah ditemukan 6 konten mengenai pola pikir childfree dari 4 aktor yakni Gita Savitri, Cinta Laura, Rina Nose, dan Lulu Kianna yang memicu kontroversi dari tanggapan/komentar warganet.

Menurut hasil penelitian, menunjukkan bahwa adanya relasi kontroversi mindset childfree di sosial media. Namun, kontroversi yang muncul tidak hanya berkaitan dengan pilihan ini, tetapi juga mencakup pertanyaan yang lebih luas tentang peran perempuan dalam masyarakat, kebebasan berpilihan, dan bagaimana feminisme memainkan peran dalam pemahaman ini. Di sisi lain, dalam budaya ketimuran yang kaya akan nilai-nilai keluarga dan keturunan, pemilihan untuk tidak memiliki anak dapat dianggap sebagai ancaman terhadap tradisi dan budaya yang telah lama dijunjung tinggi.

Hal ini dibuktikan dari adanya tanggapan yang beragam dari warganet. Sebagian warganet mendukung pandangan childfree, menganggapnya sebagai hak setiap individu untuk membuat keputusan tentang memiliki anak. Mereka menganggap bahwa setiap orang memiliki kebahagiaan versi mereka sendiri dan tidak semua orang harus mengikuti norma sosial yang mengharuskan menikah dan memiliki anak. Namun, beberapa warganet menentang pandangan childfree ini, menganggapnya melawan kodrat perempuan dan norma budaya timur, terutama di Indonesia.

Dengan demikian, kontroversi mengenai pola pikir childfree ini mencerminkan perdebatan yang luas tentang hak individu, feminisme, dan nilai-nilai budaya tradisional. Juga mencerminkan kompleksitas dalam memahami pandangan-pandangan yang beragam dalam masyarakat.

“Hasil studi kami mengungkapkan bahwa banyak tanggapan pro kontra warganet terhadap pola pikir childfree tersebut, tidak sedikit dari mereka yang menentang adanya pilihan childfree dan mengaitkannya dengan nilai-nilai budaya timur, terutama budaya Indonesia” Tutur Afifah, ketua tim PKM tersebut.

Author :Kontributor

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial