Pasuruan, Jawa Timur
Rabu, 27 Mei 2026

Candi Guru, Jejak Sunyi Peradaban di Lereng Penanggungan

Portalarjuna.net, Mojokerto – Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Penanggungan ketika langkah kaki menapaki jalur tanah yang lembap. Di antara semak belukar dan batuan vulkanik, sebuah struktur batu bertingkat berdiri sunyi Candi Guru, salah satu situs purbakala yang menyimpan jejak spiritual dan sejarah peradaban Jawa kuno.

Berbeda dari candi besar yang menjulang megah di dataran rendah, Candi Guru hadir dalam kesederhanaan. Susunan batu andesit yang membentuk teras bertingkat seolah menyatu dengan kontur alam pegunungan. Tangga sempit di tengah bangunan mengarahkan pandangan lurus ke puncak, seakan menjadi simbol perjalanan manusia menuju ruang yang lebih luhur.

Para arkeolog meyakini, situs-situs di Gunung Penanggungan berkaitan erat dengan tradisi pertapaan pada masa akhir Majapahit. Lereng gunung ini dipercaya sebagai ruang sakral, tempat para resi dan tokoh spiritual melakukan semedi untuk mencari kesempurnaan batin. Candi Guru menjadi salah satu penanda dari jaringan situs suci yang tersebar di jalur pendakian gunung tersebut.

“Bangunan seperti ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga ruang refleksi,” ujar seorang pemandu lokal, sambil menunjuk relief sederhana yang masih tersisa di beberapa sudut batu. “Setiap langkah ke atas memiliki makna simbolik.”

Dari halaman depan candi, hamparan perbukitan dan langit terbuka menjadi latar yang memperkuat kesan sunyi. Angin gunung berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Tidak ada hiruk pikuk wisata massal di sini—hanya suara alam dan jejak langkah para peziarah, pendaki, serta peneliti yang datang untuk menyelami masa lalu.

Pemerintah daerah dan komunitas pelestari budaya setempat berupaya menjaga keberadaan Candi Guru melalui perawatan rutin dan edukasi kepada pengunjung. Upaya ini penting untuk mencegah kerusakan akibat alam maupun aktivitas manusia, sekaligus memperkenalkan nilai sejarah kepada generasi muda.

Di tengah maraknya wisata modern, Candi Guru tetap setia pada kesunyian yang menjadi identitasnya. Ia tidak menawarkan gemerlap, melainkan pengalaman: tentang pertemuan manusia dengan alam, dan tentang perjalanan batin yang telah ditempuh oleh leluhur berabad-abad lalu.

Di lereng Penanggungan, batu-batu tua itu terus berdiri, menyimpan cerita yang tak diucapkan—menunggu siapa pun yang bersedia mendengarkan dengan langkah pelan dan hati terbuka.

Author : Muhamad Syaifudin 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial