Portalarjuna.net, Malang – Pemerintah Kota Malang bersama komunitas pegiat sejarah secara resmi meluncurkan program revitalisasi narasi “Filosofi Heritage Kayutangan”, 26 November 2025, di Kawasan Kayutangan Heritage. Langkah ini diambil untuk memperkuat identitas kota melalui pelestarian arsitektur kolonial dan struktur kayu otentik sebagai upaya menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus meningkatkan nilai jual pariwisata berbasis edukasi sejarah di Jawa Timur.
Revitalisasi ini memfokuskan pada pemeliharaan fasad bangunan tua yang menggabungkan elemen kayu tradisional dan gaya kolonial Indische. Kayutangan bukan sekadar deretan bangunan usang, melainkan simbol pusat perdagangan masa lampau yang mencerminkan adaptasi arsitektur terhadap iklim tropis. Fokus utama kegiatan ini adalah restorasi visual dan pendataan digital terhadap aset-aset sejarah yang masih berdiri kokoh di sepanjang koridor Jalan Basuki Rahmat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang menyatakan bahwa urgensi dari kegiatan ini terletak pada ancaman modernisasi yang masif.
“Kita tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi menghidupkan kembali ruh atau filosofi dari setiap kayu dan batu yang ada di Kayutangan. Ini adalah upaya sistematis untuk memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak menggerus akar sejarah yang kita miliki,” ujarnya saat ditemui di lokasi “.
Plaksanaan program ini melibatkan tim ahli cagar budaya yang melakukan konservasi material kayu secara spesifik. Prosesnya meliputi pembersihan kerak polutan pada kayu jati tua, penggantian bagian yang keropos dengan material serupa, hingga pengaturan tata cahaya lampu jalan bergaya retro. Sinergi antara pemerintah dan warga lokal menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan estetika kawasan yang kini menjadi ikon baru “Malang Tempo Doeloe”. Seorang arsitek dan pemerhati sejarah yang terlibat.
Pelaksanaan program ini melibatkan tim ahli cagar budaya yang melakukan konservasi material kayu secara spesifik. Prosesnya meliputi pembersihan kerak polutan pada kayu jati tua, penggantian bagian yang keropos dengan material serupa, hingga pengaturan tata cahaya lampu jalan bergaya retro. Sinergi antara pemerintah dan warga lokal menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan estetika kawasan yang kini menjadi ikon baru “Malang Tempo Doeloe”. Seorang arsitek dan pemerhati sejarah yang terlibat dalam proyek ini menambahkan bahwa setiap elemen kayu di kawasan ini memiliki narasi sosiologis yang mendalam. ”
“Kayutangan adalah perwujudan dari filosofi keterbukaan. Kayu sebagai material utama melambangkan kehangatan dan fleksibilitas sosial masyarakat Malang di masa lalu. Kami ingin pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memahami lapisan sejarah di baliknya,” ungkapnya “.
Melalui penataan kawasan ini juga menerapkan standar konservasi internasional yang membagi wilayah menjadi beberapa zona edukasi. Para wisatawan kini dapat menikmati tur berjalan kaki (walking tour) yang dipandu oleh narasumber ahli untuk menjelaskan detail arsitektur dari setiap bangunan. Hal ini dilakukan guna mengubah paradigma dari sekadar wisata hiburan menjadi wisata literasi sejarah yang berkelanjutan.
Sebagai penutup, Pemerintah Kota Malang berencana mengintegrasikan Kawasan Kayutangan Heritage dengan pusat ekonomi kreatif lainnya untuk memastikan kesejahteraan warga setempat. Dengan selesainya tahap awal revitalisasi ini, diharapkan Kayutangan dapat menjadi rujukan nasional dalam hal manajemen cagar budaya perkotaan. Agenda rutin seperti festival budaya dan pameran arsip foto rencananya akan digelar secara berkala untuk menjaga antusiasme publik terhadap warisan leluhur.
Author : Izzamaulyraaa









