Portalarjuna.net, Pasuruan – Udara Pandaan sore itu terasa lebih sejuk dari biasanya. Angin pelan menyapu hamparan rumput hijau, sementara deretan bangunan kayu beratap melengkung berdiri anggun di kejauhan. Langkah kaki pengunjung melambat, kamera ponsel mulai terangkat, dan senyum kecil muncul tanpa diminta. Di titik itulah banyak orang sadar, mereka tidak sedang berada di Korea, tetapi di sebuah taman tematik bernama Taman K, di Desa Durensewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.
Diresmikan pada 2 Februari 2024, Taman K hadir sebagai destinasi wisata bernuansa Korea yang menawarkan pengalaman berbeda dari kebanyakan tempat rekreasi keluarga di Jawa Timur. Lokasinya berada di KM 3 Durensewu, Klagen, Pandaan, dan dapat dijangkau sekitar satu jam perjalanan dari Surabaya atau Malang melalui akses tol. Setiap hari, kawasan ini dibuka mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, dengan tiket masuk Rp25.000 saat weekday dan Rp35.000 di akhir pekan. Anak di atas satu tahun dikenakan tarif yang sama, sementara anak di bawah satu tahun gratis. Parkir mobil dikenakan biaya Rp10.000.
Begitu melewati pintu masuk, suasana taman langsung mendominasi pandangan. Rumput hijau terbentang luas, pepohonan tertata rapi, dan jalur pejalan kaki menghubungkan satu area ke area lain. Di sinilah konsep utama Taman K terasa kuat: taman tematik yang hidup, bukan sekadar tempat foto.
Zahra, host Taman K, menjelaskan bahwa kawasan ini memang dirancang untuk menjadi ruang rekreasi keluarga berbasis taman.
“Untuk area Taman K ini memang kita bertemakan taman. Jadi 80 persen dari area ini adalah area taman. Di dalam juga ada resto dan kafe. Terus untuk spot yang paling dikenal, tentu penyewaan baju Korea dan foto di area gazebo yang dibangun langsung oleh orang Korea,” ujarnya.
Di tengah taman berdiri paviliun-paviliun bergaya hanok, arsitektur tradisional Korea. Paviliun utama bernama Yeonginru menyambut pengunjung dengan kesan megah namun hangat. Dua paviliun lain, Donginjae dan Hyangwonjeong, melengkapi nuansa autentik kawasan ini. Menariknya, bukan hanya desainnya yang “berasa Korea”, tetapi juga proses pembangunannya.
“Ikoniknya di sini itu gazebo. Kita punya tiga gazebo. Yang pertama namanya Yeonginru, artinya gazebo selamat datang. Untuk tenaga kerjanya juga asli orang Korea, bahkan materialnya juga dari sana. Struktur bangunannya tidak kami ubah supaya adat dan keasliannya tetap terjaga,” tutur Zahra.
Di sekitar paviliun inilah banyak pengunjung berhenti lebih lama. Ada yang duduk santai, ada yang sibuk mengatur tripod, ada pula yang berganti busana di ruang penyewaan hanbok. Penyewaan hanbok dibanderol Rp100.000 untuk dewasa dan Rp75.000 untuk anak-anak selama 30 menit. Untuk akses penuh ke tiga gazebo lewat Korean Hanok Tour, pengunjung dikenakan biaya Rp200.000 per orang.
Jeslin Auliya, salah satu pengunjung, mengaku terkesan sejak pertama kali melihat paviliun hanok.
“Pas lihat gazebonya kerasa banget vibes Koreanya. Apalagi aku juga suka nonton drakor, jadi seneng bisa foto dan video ala-ala di Korea gitu,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun Taman K tidak berhenti pada estetika. Di bagian lain kawasan ini, suara tawa anak-anak bercampur cipratan air dari waterslide setinggi 21 meter dengan lintasan sepanjang 100 meter, yang diklaim sebagai waterslide tertinggi di Jawa Timur. Tiket wahana ini dibanderol Rp75.000 dan sudah termasuk peminjaman loker, handuk bersih, serta akses lift basah menuju puncak.
Selain itu tersedia kolam renang, indoor playground dan trampolin dengan tarif masing-masing Rp50.000, wahana berkuda seharga Rp50.000, hingga aktivitas ATV, paintball shooting target, dan memanah.
“Untuk activity kita lengkap, dari water slide, kolam renang, ATV, paintball shooting target, sampai memanah dan berkuda juga ada,” kata Zahra.
Bagi pengunjung yang ingin bermalam, tersedia glamping dengan konsep mewah di alam terbuka. Glamping Couple dibanderol Rp900.000 per malam dan Glamping Family Rp1.100.000 per malam, lengkap dengan kamar mandi dalam dan sarapan.
Sisi edukatif juga dihadirkan lewat Edufarm Package, sebuah program yang mengajak pengunjung memerah sapi dan menanam sayuran organik. Program ini dirancang agar wisata tak hanya soal hiburan, tetapi juga pembelajaran ringan yang menyenangkan.
Soal kuliner, Taman K menghadirkan beragam pilihan. C&C Pandaan menyajikan croissant dan kopi dengan pemandangan paviliun Hyangwonjeong dan danau kecil. Restoran Latar Ayem menawarkan menu Nusantara seperti iga penyet, nila bakar, nasi lodeh, dan nasi kare. Sementara Korean Food Cafe menyuguhkan hidangan khas Korea seperti tteokbokki, kimbab, odeng, corn dog, ramyeon, jjajangbab, japchae, dan mandu.
Menariknya, di balik wajah barunya yang kini ramai dibicarakan, Taman K sebenarnya bukan pemain baru. Menurut Padmavati Darma Putri Tanuwijaya, Manager Pemasaran Dusun Kuliner, kawasan ini telah beroperasi sejak empat tahun lalu.
“Awalnya kami fokus wisata kuliner dengan suasana kebun apel. Tiga tahun berjalan di konsep itu, lalu akhir 2024 kami mulai serius mengembangkan area taman,” jelas Vava, sapaan akrabnya.
Nama Taman K sendiri berakar dari sejarah kawasan ini.
“Nama Taman K diambil dari K Gallery Hotel yang berdiri lebih dulu. Dulu pemiliknya memang orang Korea. K itu berasal dari Korea dan juga berarti kreatif dan keceriaan menurut owner,” terang Zahra.
Kini, Taman K tumbuh sebagai ruang rekreasi tematik yang memadukan taman hijau, budaya Korea, wahana modern, dan kuliner lintas rasa. Ia bukan sekadar tempat berfoto, melainkan ruang untuk berjalan pelan, tertawa bersama keluarga, dan merasakan sensasi liburan singkat tanpa harus meninggalkan Pasuruan.
Di antara paviliun hanok, suara air, aroma kopi, dan tawa anak-anak, Taman K seolah menawarkan satu hal sederhana: pengalaman kecil yang terasa istimewa.
Author : Eka Suryanti
















