Portalarjuna.net, Purwosari – Keberadaan Pasar Tradisional Purwosari semakin terhimpit oleh laju modernisasi dan perubahan pola belanja masyarakat. Aktivitas jual beli yang sebelumnya ramai kini tidak lagi seramai dulu. Sejumlah kios tampak sepi, bahkan beberapa di antaranya memilih tutup karena minimnya pembeli yang datang.
Perkembangan teknologi digital mendorong masyarakat beralih ke belanja online yang dianggap lebih praktis dan efisien. Dengan hanya menggunakan ponsel, konsumen dapat membeli kebutuhan sehari-hari tanpa harus datang langsung ke pasar. Kondisi ini berdampak langsung pada pedagang tradisional yang masih mengandalkan transaksi tatap muka.
Para pedagang mengaku pendapatan mereka terus menurun dari tahun ke tahun. Salah satu pedagang kue tradisional di Pasar Purwosari, Ibu Mar, mengatakan bahwa penurunan omzet mulai terasa setelah masa pandemi.
“Penurunan terjadi pasca korona. Kue yang saya jual dulu sebelum korona bisa mencapai 25 sampai 50 potong sehari, tapi sekarang paling banyak hanya laku sekitar 10 sampai 15 potong per hari,” ujarnya.
Selain kalah bersaing dengan pasar online, kondisi fasilitas pasar juga menjadi perhatian. Bangunan yang mulai usang, pencahayaan yang kurang memadai, serta penataan kios yang belum maksimal membuat kenyamanan pengunjung menurun. Hal ini semakin memperkuat alasan masyarakat untuk beralih ke alternatif belanja yang lebih modern.
Meski begitu, pasar tradisional tetap memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pasar online, yakni interaksi sosial yang hangat antara pedagang dan pembeli. Proses tawar-menawar dan kedekatan emosional masih menjadi ciri khas yang bertahan hingga kini.
Tanpa adanya pembenahan dan dukungan yang serius, Pasar Tradisional Purwosari berisiko semakin terpinggirkan. Diperlukan upaya adaptasi serta perhatian dari berbagai pihak agar pasar tradisional dapat bertahan dan tetap relevan di tengah gempuran belanja online yang kian mendominasi.
Author : Sabilah Safira Rohmah












