Portalarjuna.net, Pasuruan– Petani di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, mulai memanen mangga sejak akhir Agustus 2026. Petani Wonokerto membudidayakan dua varietas unggulan yaitu Mangga Gadung dan Clonal 21 menjadi dua varietas yang menarik perhatian karena memilikirasa dan tekstur yang khas.
M. Taufiqur Rahman, pemilik kebun mangga di Wonokerto, memanfaatkan musim panen sebagai momen untuk menikmati hasil perawatan kebun bersama sang ayah. Keduanya merawat tanaman secara rutin untuk enjaga kualitas buah sekaligus mengembangkan potensi pertanian di wilayah tersebut.
Menurut Taufiqur Rahman, musim panen tahun ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober 2026. Kedua varietas tersebut menawarkan keunggulan tersendiri dari segi rasa dan tekstur, terutama dari segi rasa dan tekstur buah. Salah satu keunikan mangga alpukat Clonal 21 terletak pada cara mengupas dan tekstur daging buahnya. Mangga ini memiliki rasa manis serta kadar air yang relatif rendah.
“Dari segi rasa, mangga ini manis. Keunikannya, ketika mengupas bisa menggunakan cara seperti mengupas alpukat. Teksturnya juga memiliki kadar air yang rendah sehingga ketika dimakan tidak gampang enek,” ujar M. Taufiqur Rahman pada (23/10/2026).
Perawatan Kebun dan Kondisi Panen Mangga
Untuk menjaga kualitas buah, Taufiqur Rahman bersama sang ayah melakukan perawatan kebun secara rutin. Salah satu upaya yang mereka lakukan ialah penyemprotan tanaman guna menjaga kesehatan pohon dan mengurangi risiko serangan hama.
Ia menilai hasil panen mangga tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, cuaca yang didominasi kemarau panjang turut mendukung produktivitas tanaman.
Sebaliknya, tingginya curah hujan pada musim sebelumnya menjadi salah satu tantangan dalam budidaya mangga. Curah hujan tinggi memicu serangan hama dan mempercepat pembusukan buah.
Pemasaran Mangga Wonokerto hingga Luar Daerah
Pemilik kebun memasarkan hasil panen untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal hingga luar daerah. Pemilik kebun juga memasarkan buah ke luar daerah melalui penjualan daring maupun penyaluran langsung kepada pengepul.
Meski demikian, musim panen raya juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi pemilik kebun. Ketika pasokan mangga melimpah pasokan mangga dapat menekan harga jual di pasaran.
Bagi Taufiqur Rahman, musim panen bukan sekadar waktu untuk memetik hasil kebun. Momen tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kualitas dan keunggulan mangga Wonokerto kepada masyarakat luas.
Dengan karakteristik rasa dan tekstur yang khas, Petani berharap mangga Gadung dan Clonal 21 terus memperkuat potensi pertanian Desa Wonokerto, serta memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan pemilik kebun setempat.
Author: Rahmani Qolbiana






